PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP), pengelola jaringan restoran cepat saji California Fried Chicken (CFC), menggelar public expose insidentil secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Selasa, 3 November 2026, pukul 10.00 hingga 10.30 WIB. Acara dibuka oleh karyawan perseroan, Erikson Pandiangan, selaku moderator, dengan pemaparan materi oleh Direktur PTSP Teh Kian Kun, dilanjutkan sesi tanya jawab bersama Wakil Direktur Utama Edi Triyento. Tiga reporter media, dari Investor Daily, Kontan, dan Bisnis Indonesia, hadir secara virtual dalam sesi tersebut.

Manajemen menyebut pendapatan usaha bersih perseroan hingga September 2026 tumbuh 4,2 persen secara tahunan menjadi Rp556,3 miliar, dari sebelumnya Rp533 miliar. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 12 persen menjadi Rp15,48 miliar dari Rp13,82 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Manajemen optimistis target pertumbuhan pendapatan 5 persen dan laba bersih 10 sampai 15 persen sepanjang 2026 dapat tercapai. Dari sisi neraca, total aset naik Rp25,9 miliar atau 7,3 persen, ekuitas bertambah Rp17,4 miliar atau 9,5 persen, sementara total liabilitas justru turun sekitar Rp8,5 miliar atau 5 persen.

Dari target pembukaan 20 gerai baru sepanjang 2026, perseroan telah merealisasikan 17 gerai hingga kuartal III, dengan belanja modal sekitar Rp7 miliar hingga Rp8 miliar yang seluruhnya dibiayai dari kas internal. Beberapa gerai tambahan masih dalam proses pembangunan sehingga manajemen yakin sisa tiga gerai dapat selesai sebelum akhir tahun. Dari sisi portofolio merek, CFC masih menyumbang sekitar 97 persen pendapatan perseroan, sementara tiga merek lain, Sapo Oriental, CalDonat, dan Sugakiya, menyumbang sisanya sekitar 3 persen. Untuk menjaga penjualan, perseroan mengandalkan strategi produk musiman limited time offer yang diperbarui setiap tiga sampai empat bulan, dengan ayam goreng rasa mala sebagai peluncuran terbaru yang disebut mendapat respons penjualan cukup baik. Manajemen menegaskan belum ada penyesuaian harga jual produk meski ada tekanan biaya bahan baku, kemasan, dan tenaga kerja, dan menjaga margin lewat negosiasi biaya sewa dengan vendor serta efisiensi penggunaan air, listrik, dan gas.

Menjawab pertanyaan wartawan, manajemen memastikan tidak ada rencana aksi korporasi dalam waktu dekat di luar rencana kerja yang sudah ditetapkan. Untuk 2027, manajemen memperkirakan persaingan industri restoran cepat saji masih akan berlangsung ketat, sehingga inovasi produk dan pengendalian biaya tetap menjadi fokus strategi perseroan.