Industri ritel Indonesia sedang mengubah cara pusat perbelanjaan menjaring pengunjung. Mal yang selama ini mengandalkan transaksi jual beli kini didorong menjadi tempat orang mau datang, berinteraksi, dan kembali lagi, sebuah respons atas makin banyaknya pilihan belanja lewat platform daring.

Riset properti CBRE mencatat pasar ritel Jakarta pada 2026 bergeser dari model berbasis transaksi menuju ekosistem yang berorientasi pengalaman. Segmen gaya hidup seperti makanan dan minuman, fesyen, olahraga, dan rekreasi diproyeksikan menjadi salah satu pendorong utama permintaan ruang ritel ke depan.

Perubahan ini terlihat pada langkah PT Star Maju Sentosa yang mengganti identitas korporatnya menjadi Joysparks Group. Nama baru ini akan menaungi Star Department Store dan Happy Harvest Supermarket, serta lini usaha baru Lintas Bookstore yang dijadwalkan mulai beroperasi akhir 2026. Finance Director Joysparks Group, Deddy Wongso, mengatakan langkah itu lahir dari kebutuhan menyatukan portofolio bisnis yang terus bertambah di bawah satu payung.

Persaingan ritel semakin kompleks karena konsumen punya lebih banyak pilihan lewat e-commerce. Pusat perbelanjaan pun dituntut memberi alasan tambahan agar masyarakat tetap mau datang secara fisik, bukan hanya bertransaksi lewat layar.