Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri memimpin Pertemuan ke-5 Para Menteri Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Pasay City, Filipina, pada Senin (21/9), bersama anggota parlemen Selandia Baru Shane Reti. Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) ke-58 yang berlangsung 17-22 September 2026. Hasil paling konkret dari pertemuan ini adalah persetujuan membentuk kelompok kerja khusus yang akan memproses permohonan bergabung dari empat ekonomi baru, yaitu Bangladesh, Chile, Hong Kong, dan Sri Lanka.
RCEP saat ini beranggotakan 10 negara ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, ditambah lima negara mitra yaitu Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Perundingan perjanjian ini dimulai pada 2012 dan resmi ditandatangani pada 2020. Selain membahas perluasan keanggotaan, para menteri juga menyambut peluncuran situs resmi RCEP di rcepsec.org sebagai kanal informasi publik mengenai ketentuan dan perkembangan implementasi perjanjian.
Pertemuan tersebut juga mencatat kemajuan pembentukan kantor sekretariat tetap RCEP yang rencananya berkedudukan di Indonesia. RCEP Joint Committee diminta melanjutkan pembahasan rancangan kerangka acuan (Terms of Reference) serta persiapan lain untuk sekretariat itu. Para menteri turut mendorong seluruh negara anggota menuntaskan komitmen yang masih berjalan dan ASEAN mengoptimalkan dukungan kerja sama ekonomi dan teknis yang tersedia.
Indonesia dalam pertemuan ini menekankan pentingnya meningkatkan pemanfaatan RCEP, termasuk oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, melalui sosialisasi yang lebih luas agar manfaat perjanjian dirasakan secara nyata. Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Johni Martha, didampingi Direktur Perundingan ASEAN Nugraheni Prasetya Hastuti.
