Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memaparkan sejumlah data terbaru perekonomian dan investasi Indonesia dalam forum diseminasi informasi publik di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Senin (21/9/2026). Paparan ini penting bagi pelaku usaha dan investor karena merangkum kondisi ekonomi RI paling mutakhir, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga realisasi investasi, yang lazim menjadi acuan sebelum mengambil keputusan bisnis.
Menurut Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Pembangunan Daerah, Haryo Limanseto, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, sementara inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen dibanding tahun sebelumnya. Realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, naik 7,2 persen dari periode yang sama tahun lalu. Cadangan devisa Agustus 2026 tercatat sekitar US$146 miliar dan neraca perdagangan Januari-Juni 2026 mencatat surplus US$3,58 miliar. Lembaga pemeringkat S&P juga mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dengan prospek stabil, yang berarti lembaga itu menilai kemampuan Indonesia membayar utang masih tergolong layak investasi.
Pemerintah juga melaporkan perkembangan tim penyelesai hambatan investasi yang disebut Satgas Debottlenecking. Hingga 31 Agustus 2026, tim ini menerima 177 aduan dari pelaku usaha terkait perizinan, pajak, bea cukai, tata ruang, logistik, dan energi, dan sudah menyelesaikan 135 di antaranya. Sistem perizinan berusaha berbasis risiko atau OSS, yang diatur Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, disebut sebagai jalur utama pemerintah menjamin kepastian izin usaha bagi investor.
Untuk kawasan ekonomi khusus atau KEK, yaitu kawasan yang diberi insentif pajak dan kemudahan khusus untuk menarik investasi, pemerintah mencatat 25 KEK dengan investasi kumulatif sekitar Rp368 triliun dan penyerapan lebih dari 283 ribu pekerja hingga Juni 2026. Di sektor hilirisasi, yakni pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi sebelum diekspor, pemerintah mengidentifikasi 28 komoditas prioritas dari sektor tambang, perkebunan, perikanan, dan kehutanan dengan potensi investasi US$618,1 miliar, potensi ekspor US$857,9 miliar, serta proyeksi penyerapan lebih dari 3 juta tenaga kerja hingga 2040.
