Menteri Perdagangan Budi Santoso bertemu Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Bulgaria, Alexander Poulev, di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (14/9/2026). Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama dagang dan investasi kedua negara yang telah menjalin hubungan diplomatik selama 70 tahun. Budi menyebut Bulgaria berpotensi menjadi pintu masuk produk Indonesia ke pasar Eropa Tenggara, sekaligus meminta dukungan Bulgaria agar implementasi I-EU CEPA, perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa, bisa mulai berjalan awal 2027.
Data yang dipaparkan Kementerian Perdagangan menunjukkan total perdagangan Indonesia-Bulgaria sepanjang 2025 tercatat US$230,8 juta, dengan Indonesia mencatat surplus US$64,2 juta. Ekspor Indonesia ke Bulgaria senilai US$147,4 juta, didominasi bijih nikel dan konsentratnya, aluminium tidak ditempa, batang serta produk canai dari besi atau baja bukan paduan, dan margarin. Impor Indonesia dari Bulgaria senilai US$83,1 juta, meliputi gandum dan meslin, instrumen medis serta kedokteran hewan, biji adas dan ketumbar, senjata militer, dan tembakau belum diolah. Dengan nilai tersebut, Bulgaria hanya menempati peringkat ke-76 tujuan ekspor nonmigas dan ke-67 asal impor nonmigas Indonesia.
Budi mengundang pelaku usaha Bulgaria berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang digelar 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang. Poulev menyambut ajakan itu dan menyebut Bulgaria, sebagai negara di ujung timur Uni Eropa, bisa menjadi jalur bagi perusahaan Indonesia menembus pasar Uni Eropa yang berpenduduk 450 juta jiwa.
Poulev menyebut pangan, teknologi satelit, dan logistik sebagai sektor unggulan Bulgaria, dengan peluang kerja sama lain mencakup pertanian, komponen otomotif, dan daging berstandar halal. Ia juga mengusulkan mengaktifkan kembali Komisi Bersama Kerja Sama Ekonomi (JEC) Indonesia-Bulgaria pada semester pertama 2027 untuk mempercepat realisasi komitmen dagang dan investasi kedua negara.
