Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Menteri Perdagangan Internasional Kanada Maninder Sidhu di sela-sela Canada Investment Summit di Toronto, Senin (14/9). Pertemuan ini membahas kesiapan menjalankan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement atau ICA-CEPA, perjanjian dagang yang sudah diteken kedua kepala negara pada September 2025 dan kini memasuki tahap pelaksanaan. Ini penting bagi pelaku usaha karena perjanjian ini akan memangkas bea masuk untuk mayoritas produk yang diperdagangkan kedua negara.
Menurut paparan Airlangga, nilai perdagangan Indonesia-Kanada tumbuh rata-rata 9,13 persen per tahun sejak 2021, dengan total transaksi semester pertama 2025 mencapai US$3,1 miliar, naik 13 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Begitu ICA-CEPA berjalan penuh, Kanada akan menghapus atau menurunkan bea masuk untuk lebih dari 90 persen kategori produk asal Indonesia, sementara Indonesia melakukan hal serupa untuk sekitar 86 persen kategori produk Kanada. Pemerintah memproyeksikan ekspor Indonesia ke Kanada bisa naik hingga US$11,8 miliar pada 2030 jika target ini tercapai.
Sektor yang disebut berpeluang paling diuntungkan meliputi hilirisasi mineral kritis, energi bersih, agripangan dan perikanan berkelanjutan, infrastruktur, serta jasa keuangan dan digital. Namun kedua menteri juga mengakui masih ada pekerjaan rumah sebelum manfaat itu terasa, yakni penyesuaian standar produk, praktik ketenagakerjaan, penguatan kapasitas UMKM agar bisa memanfaatkan pasar baru, dan perbaikan infrastruktur logistik dalam negeri.
Kedua pihak sepakat memfokuskan kerja sama ke depan pada langkah konkret, termasuk mempercepat dialog kerja sama mineral kritis dan kerja sama teknis ekonomi. Pertemuan ini turut dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Edi Pambudi, dan Konsul Jenderal RI di Toronto Vevie Damayanti.
