Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS pada hari ini, dengan kisaran pergerakan Rp17.950 sampai Rp18.050 per dolar. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut pelemahan ini didorong oleh memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran yang membuat harga minyak dunia naik. Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat berada di angka Rp17.955 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini penting bagi masyarakat karena bisa membuat harga barang impor dan bahan bakar ikut lebih mahal.

Ketegangan AS dan Iran kembali memuncak setelah Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap sektor perkeretaapian dan otomotif Iran, serta jaringan perbankan bayangan yang diduga terkait dengan Rusia. Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia, dengan syarat AS memberi jaminan objektif untuk mengakhiri perselisihan. Tawaran ini sejalan dengan inisiatif diplomatik tujuh hari yang sebelumnya diajukan Teheran.

Rully juga menyebut sentimen lain yang ikut memengaruhi rupiah adalah potensi perubahan dalam kabinet pemerintah Iran, khususnya yang mengurus energi dan komoditas, karena hal ini bisa berdampak pada neraca perdagangan. Di tengah situasi ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya sudah tidak lagi percaya kepada Amerika Serikat, seiring serangan dan sanksi yang terus dilancarkan Washington terhadap Teheran.