Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,31% ke level Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan Rabu (2/9/2026), turun 40 poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.710. Pelemahan ini penting bagi pembaca karena terjadi di tengah gejolak pasar global yang lebih luas, bukan sekadar fluktuasi harian biasa.

Sepanjang perdagangan Rabu, rupiah bergerak konsisten di zona pelemahan, berada dalam rentang Rp17.755 hingga Rp17.780 per dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, ikut naik 0,08% ke level 99,759, melanjutkan penguatan 0,25% pada hari sebelumnya. Penguatan dolar ini terjadi karena investor global memburu aset yang dianggap paling aman di tengah ketegangan geopolitik.

Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik AS-Iran. Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran pada Selasa waktu setempat, dan langkah ini membuat harga minyak dunia melonjak lebih dari 4%. Kenaikan harga minyak tersebut memunculkan kekhawatiran baru soal inflasi global, yang bisa memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.

Gejolak juga merembet ke pasar surat utang pemerintah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025, sementara imbal hasil obligasi Jepang dengan tenor yang sama mencapai 3%, level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.