Rupiah dibuka melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026), turun 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp17.864 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.818. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut pelemahan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia setelah Iran meragukan kemajuan perundingan damai dengan Amerika Serikat.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November naik 1,64 dolar AS atau 1,81 persen dan ditutup pada 92,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent untuk pengiriman November bahkan melonjak 3,83 dolar AS atau 3,86 persen, ditutup di 103,08 dolar AS per barel di ICE Futures London.

Di sisi lain, dolar AS juga menguat seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Menurut Lukman, pasar kini memperkirakan probabilitas 70 persen kenaikan 0,25 persen pada Oktober, ditambah peluang lebih dari 50 persen untuk kenaikan susulan pada Desember.

Berdasarkan kombinasi faktor harga minyak dan ekspektasi suku bunga tersebut, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS dalam waktu dekat.