Nilai tukar rupiah dibuka melemah 32 poin atau 0,18 persen ke Rp17.879 per dolar AS pada Selasa, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.847. Pelemahan ini terjadi menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, sehingga banyak investor memilih menahan diri dan menunggu hasil keputusan sebelum mengambil posisi baru.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut sikap wait and see itu sebagai pemicu utama pelemahan rupiah hari ini. Bank Indonesia diperkirakan akan menahan suku bunga acuan demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, dengan mengandalkan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, swap point, dan intervensi di pasar obligasi untuk menstabilkan rupiah dalam jangka pendek.

Di sisi lain, bank sentral Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa sama-sama menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin pada September 2026. Harga minyak dunia juga masih bertahan di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel meski trennya menurun, sebuah kondisi yang dikhawatirkan memperlebar defisit anggaran dan neraca perdagangan.

Dengan sejumlah faktor tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.