Nilai tukar rupiah melemah tipis ke Rp17.885 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026. Pelemahan ini terjadi setelah pelaku pasar mencerna sentimen dari laporan MSCI serta data penjualan ritel domestik yang masih melambat. Bagi masyarakat, rupiah yang melemah berarti barang impor dan bahan baku dari luar negeri berpotensi lebih mahal.

Menurut kurs referensi resmi Bank Indonesia (Jisdor), rupiah tercatat di Rp17.876 per dolar AS pada Rabu, 12 Agustus 2026, melemah 52 poin dibanding hari sebelumnya di Rp17.824. Pada Kamis, posisi rupiah kembali tergelincir 8 poin atau 0,04 persen dari Rp17.877 menjadi Rp17.885 per dolar AS. Pelemahan yang berturut-turut ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut meski besarannya mengecil dibanding sehari sebelumnya.

Di sisi lain, penjualan ritel Indonesia pada Juni 2026 tercatat turun 3,0 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, melandai dari penurunan 3,9 persen pada bulan sebelumnya. Menurut Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, ini merupakan penurunan paling ringan sejak tren pelemahan penjualan ritel dimulai pada April 2026. Ia menilai masyarakat masih menahan belanja barang non-pokok seperti pakaian, alat komunikasi, dan perlengkapan rumah tangga akibat daya beli yang tertekan.

Di sisi fiskal, Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah pusat mencapai Rp10.293,69 triliun per semester I 2026, terdiri dari Surat Berharga Negara senilai Rp8.966,79 triliun dan pinjaman Rp1.326,90 triliun. Angka ini setara 41,26 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB, naik dari Rp9.920,42 triliun atau 40,75 persen PDB pada akhir Maret 2026. Rasio ini masih jauh di bawah batas aman 60 persen PDB yang ditetapkan Undang-Undang Keuangan Negara.