Nilai tukar rupiah ditutup menguat 125 poin ke level Rp17.507 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, dan pengamat mata uang memperkirakan penguatan ini masih akan berlanjut pada perdagangan Kamis. Bagi masyarakat, rupiah yang lebih kuat berarti harga barang impor, mulai dari bahan baku industri sampai barang elektronik, berpotensi lebih terjangkau karena butuh lebih sedikit rupiah untuk membeli barang dalam dolar.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan hari ini didorong oleh dua data domestik. Pertama, penjualan ritel Agustus 2026 melonjak 7,7 persen menjadi 83.422 unit. Kedua, indeks keyakinan konsumen, yaitu ukuran seberapa optimis masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan, naik ke 118,5, tertinggi sejak Januari 2026.

Ibrahim menilai kenaikan optimisme konsumen ini menjadi sinyal bahwa target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga sebesar 5,3 persen berpeluang tercapai. Untuk perdagangan Kamis, ia memperkirakan rupiah masih punya ruang menguat sekitar 50 poin lagi, menuju kisaran Rp17.480 per dolar AS.