Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat 54 poin, atau 0,30 persen, ke level Rp17.694 per dolar AS pada perdagangan Jumat (21/8/2026), dari penutupan sebelumnya di Rp17.748 per dolar AS. Penguatan ini penting bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku atau barang impor, karena setiap penguatan rupiah membuat kewajiban dalam dolar sedikit lebih ringan untuk dibayar dalam rupiah.

Peneliti Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai penguatan rupiah ditopang oleh keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen. Menurutnya kebijakan itu diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia turut menguat ke Rp17.705 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.779 per dolar AS.

Dari sisi eksternal, dolar AS sempat tertekan setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan peningkatan pembelian kembali obligasi jangka panjang. Namun tekanan itu tidak bertahan lama karena imbal hasil surat utang Treasury kembali naik, di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi dan kondisi fiskal AS. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) turut menunjukkan perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed soal arah suku bunga, sehingga arah kebijakan moneter AS masih jadi perhatian pelaku pasar.