Rupiah menguat tipis ke Rp17.715 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 1 September 2026, naik 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.722. Penguatan kecil ini terjadi di tengah kembali memanasnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, yang memicu lonjakan harga energi di pasar global. Pergerakan rupiah ini penting dicermati karena Indonesia masih bergantung pada impor energi, sehingga nilai tukar ikut menentukan seberapa besar beban subsidi yang harus ditanggung anggaran negara.

Sehari sebelumnya, kurs referensi resmi Bank Indonesia atau Jisdor mencatat rupiah berada di Rp17.746 per dolar AS pada Senin, 31 Agustus 2026, melemah 43 poin dari Rp17.703 pada Jumat, 28 Agustus 2026. Artinya, sebelum menguat tipis pada Selasa, rupiah sempat tertekan lebih dulu akibat sentimen geopolitik yang sama.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga energi berpotensi menambah beban anggaran negara, sehingga kondisi ini bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengubah skema subsidi dan kompensasi energi. Menurutnya, realisasi subsidi dan kompensasi energi hingga akhir Juni 2026 sudah mencapai sekitar Rp233 triliun, dan angka ini diperkirakan terus bertambah hingga akhir tahun serta berpotensi menambah tekanan pada keuangan negara di tahun 2027.

Besaran subsidi energi Indonesia ditentukan oleh tiga hal utama, yaitu harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan tingkat konsumsi energi di dalam negeri. Ketika rupiah melemah, biaya untuk membeli dan mengangkut energi dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal dalam hitungan rupiah, sehingga pelemahan kurs dan lonjakan harga energi global yang terjadi bersamaan bisa saling memperberat beban subsidi.