Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (31/8/2026), membalikkan penguatan yang sempat tercatat pada akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat memberi sinyal baru soal arah suku bunga, yang membuat dolar AS kembali perkasa dan menekan mata uang di kawasan, termasuk rupiah.

Rupiah dibuka turun 57 poin, atau 0,32 persen, ke level Rp17.750 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.693. Data dari Refinitiv mencatat angka pelemahan yang sedikit berbeda, yaitu 0,23 persen ke Rp17.725 per dolar AS. Pelemahan pagi ini membalikkan arah dari Jumat lalu, saat rupiah justru ditutup menguat 0,17 persen ke Rp17.685 per dolar AS.

Penyebabnya adalah dolar AS yang masih kuat, meski indeks dolar atau DXY, yaitu alat ukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, sedikit terkoreksi 0,08 persen ke 99,624 pada pukul 09.00 WIB. Sepanjang pekan lalu, dolar AS justru menguat hampir 0,9 persen, kenaikan mingguan tercepat dalam 10 pekan terakhir, bahkan sempat menyentuh 99,727, level tertinggi sejak 17 Agustus 2026.

Penguatan dolar tersebut tidak lepas dari pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang membuka peluang kenaikan suku bunga acuan AS apabila inflasi tidak kunjung bergerak menuju target 2 persen.