PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia pada 13 Oktober 2026, melalui surat bernomor 405/SGE/X/2026 yang ditandatangani Corporate Secretary Michael Harold. Laporan ini tidak diaudit, sesuai ketentuan untuk laporan interim kuartal kedua.

Dari sisi kinerja, pendapatan bersih perseroan tercatat Rp4,33 triliun untuk semester I 2026, naik dari Rp4,06 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor melonjak dari Rp242,44 miliar menjadi Rp301,27 miliar. Setelah dikurangi beban umum, beban keuangan, dan pajak, laba bersih grup tercatat Rp140,31 miliar, naik dari Rp128,16 miliar, dengan laba per saham naik dari Rp8,13 menjadi Rp8,85. Total aset perseroan naik dari Rp5,64 triliun menjadi Rp6,01 triliun, sementara total ekuitas naik dari Rp2,37 triliun menjadi Rp2,58 triliun.

Dokumen koreksi ini juga memuat penjelasan atas sejumlah perubahan pos keuangan yang signifikan. Kas dan setara kas turun 25,26 persen menjadi Rp270,02 miliar, yang menurut perseroan disebabkan oleh piutang usaha yang melonjak 116,20 persen menjadi Rp773,08 miliar akibat penjualan yang meningkat di akhir kuartal II namun belum tertagih. Utang bank jangka pendek turun 38,12 persen menjadi Rp862,31 miliar karena reklasifikasi pembiayaan, sementara utang kepada pihak berelasi naik 51,71 persen menjadi Rp229,58 miliar untuk mendukung aktivitas pembelian batu bara. Bagian utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun melonjak 392,90 persen menjadi Rp72,62 miliar terkait pembiayaan untuk entitas anak PT Hidrogen Peroxida Indonesia, sedangkan utang obligasi jangka panjang naik tajam dari Rp9,47 miliar menjadi Rp86,70 miliar seiring penerbitan obligasi tambahan untuk menunjang pembelian batu bara.

Laporan arus kas menunjukkan kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi masih negatif Rp30,11 miliar, meski membaik dibanding negatif Rp35,81 miliar pada semester I 2025. Aktivitas pendanaan menyumbang kas masuk bersih Rp26,08 miliar, jauh lebih kecil dibanding Rp362,41 miliar pada tahun sebelumnya yang saat itu ditopang pencairan utang bank jangka pendek dan jangka panjang dalam jumlah besar.