PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tidak diaudit, ditandatangani Corporate Secretary Michael Harold dan dikirim ke Bursa Efek Indonesia pada 30 Oktober 2026. Pendapatan bersih perusahaan perdagangan batu bara dan nikel ini naik dari Rp5,22 triliun pada periode yang sama 2025 menjadi Rp6,09 triliun, atau tumbuh 16,7 persen. Laba kotor naik dari Rp371,45 miliar menjadi Rp451,54 miliar. Namun laba bersih periode berjalan justru turun tipis dari Rp190,16 miliar menjadi Rp186,60 miliar, karena beban keuangan, yaitu biaya bunga atas pinjaman perusahaan, melonjak 27,7 persen dari Rp103,25 miliar menjadi Rp131,86 miliar. Laba bersih per saham ikut turun sedikit dari Rp11,93 menjadi Rp11,90.
Dari sisi posisi keuangan, total aset SGER naik 12,01 persen dari Rp5,64 triliun menjadi Rp6,32 triliun. Dalam surat terpisah ke bursa, manajemen menjelaskan kenaikan ini terutama didorong oleh piutang usaha pihak ketiga yang melonjak 161,68 persen dari Rp357,57 miliar menjadi Rp935,68 miliar, akibat penjualan dalam negeri yang belum tertagih sampai akhir kuartal tiga. Total liabilitas juga naik, dari Rp3,28 triliun menjadi Rp3,60 triliun, didorong uang muka penjualan yang naik 103,25 persen menjadi Rp515,99 miliar dan utang usaha yang naik 100,72 persen menjadi Rp545,79 miliar, seiring meningkatnya permintaan batu bara dan nikel. Utang obligasi jangka panjang melonjak 816,01 persen dari Rp9,47 miliar menjadi Rp86,70 miliar, sementara utang bank jangka pendek justru turun dari Rp1,39 triliun menjadi Rp670 miliar. Manajemen menyatakan kenaikan liabilitas ini tidak berdampak negatif terhadap kinerja perseroan.
Ekuitas, yaitu modal milik pemegang saham, tercatat naik dari Rp2,37 triliun menjadi Rp2,72 triliun, antara lain disumbang kenaikan kepentingan pihak luar di anak usaha sebesar Rp82,47 miliar dan laba komprehensif periode berjalan Rp272,66 miliar. Dari sisi arus kas, SGER membukukan kas bersih dari aktivitas operasi Rp283,75 miliar, berbalik dari posisi defisit Rp234,69 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, kas dari aktivitas pendanaan negatif Rp185,71 miliar karena pembayaran utang bank dan pembiayaan konsumen lebih besar dari penerimaan baru, sehingga kas dan setara kas di akhir periode turun menjadi Rp322,25 miliar dari Rp361,27 miliar di awal tahun.
