PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, melalui surat nomor 146A/SMMA/VIII/2026. Laporan ini masih berstatus tidak diaudit, sebagaimana lazimnya penyampaian laporan kuartal kedua.
Dari sisi laba rugi, jumlah laba periode berjalan tercatat Rp2,30 triliun, naik 73 persen dibandingkan Rp1,33 triliun pada semester I 2025. Laba sebelum pajak naik dari Rp1,37 triliun menjadi Rp2,33 triliun. Kenaikan ini terjadi meski pendapatan dari premi asuransi turun 21 persen menjadi Rp9,75 triliun dari Rp12,33 triliun, karena beban klaim asuransi turun lebih dalam, 27 persen, menjadi Rp11,27 triliun dari Rp15,50 triliun. Perseroan juga membukukan keuntungan realisasi perdagangan aset keuangan Rp3,08 triliun, naik dari Rp1,92 triliun, meski di sisi lain mencatat kerugian belum direalisasi Rp1,44 triliun, berbalik dari keuntungan Rp324 miliar pada periode sama tahun lalu.
Di neraca, total aset naik menjadi Rp129,72 triliun per 30 Juni 2026 dari Rp120,39 triliun pada akhir 2025. Total ekuitas naik menjadi Rp28,48 triliun dari Rp25,91 triliun, dengan bagian yang menjadi hak pemilik entitas induk naik menjadi Rp26,72 triliun dari Rp23,53 triliun, sementara kepentingan non-pengendali justru turun menjadi Rp1,76 triliun dari Rp2,38 triliun. Total liabilitas naik menjadi Rp101,25 triliun dari Rp94,48 triliun, terutama didorong oleh liabilitas kontrak asuransi yang naik menjadi Rp28,05 triliun dari Rp25,87 triliun, provisi yang melonjak menjadi Rp3,29 triliun dari Rp567,54 miliar, dan munculnya kewajiban baru berupa efek yang dijual dengan janji dibeli kembali senilai Rp4,43 triliun yang sebelumnya nihil. Di sisi lain, utang obligasi turun menjadi Rp8,03 triliun dari Rp9,03 triliun.
