PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) menjawab surat Bursa Efek Indonesia bernomor S-13029/BEI.PP1/10-2026 tanggal 13 Oktober 2026, yang meminta penjelasan terkait meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan pemberitaan media dan data titik panas pemerintah. Dalam surat balasan bertanggal 15 Oktober 2026 yang diunggah ke bursa pada 21 Oktober 2026, Corporate Secretary SSMS, Deni Agustinus Damayanto, menyatakan bahwa seluruh wilayah operasional, konsesi, dan aset perseroan berada di Kalimantan Tengah. Perusahaan merinci sepuluh entitas yang mengelola lahan tersebut: PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk., PT Kalimantan Sawit Abadi, PT Mitra Mendawai Sejati, dan PT Citra Borneo Utama Tbk. di Kabupaten Kotawaringin Barat; PT Sawit Mandiri Lestari, PT Tanjung Sawit Abadi, PT Sawit Multi Utama, dan PT Mirza Pratama Putra di Kabupaten Lamandau; PT Menteng Kencana Mas di Kabupaten Pulang Pisau; serta PT Surya Borneo Industri di Kotawaringin Barat.

Menjawab pertanyaan inti bursa, SSMS menegaskan kontribusi kesepuluh entitas tersebut terhadap total produksi dan pendapatan perseroan tidak mengalami perubahan, dan hingga saat surat ditulis karhutla tidak berdampak pada kegiatan operasional maupun target produksi tahun 2026. Perseroan juga menyatakan tidak ada dampak terhadap pendapatan, laba, maupun nilai aset, serta tidak ada penghentian operasional yang tidak terencana (unplanned shutdown) di lokasi atau lahan manapun. Soal risiko hukum, SSMS memastikan tidak sedang menghadapi proses hukum atau sanksi administratif terkait karhutla, termasuk penyegelan lahan, penyelidikan, gugatan, maupun pencabutan izin, dan tidak ada informasi material lain soal karhutla yang belum diungkapkan ke publik.

Sebagai langkah mitigasi, perseroan menyebut telah mendirikan dan mengoptimalkan posko karhutla untuk mendukung tim tanggap darurat yang sudah dibentuk, memastikan sarana dan prasarana pemadaman kebakaran tersedia dalam jumlah memadai, serta memperketat pengawasan di sepanjang batas perkebunan melalui pemantauan rutin menggunakan drone, pengecekan ketersediaan air, dan memastikan akses jalan tetap mudah dilalui.