PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) melaporkan penjualan sebesar Rp216,48 miliar untuk sembilan bulan pertama 2026, naik dari Rp185,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun beban pokok penjualan naik lebih cepat, dari Rp173,76 miliar menjadi Rp206,56 miliar, sehingga laba kotor justru turun dari Rp12,16 miliar menjadi Rp9,91 miliar. Beban administrasi dan umum juga melonjak hampir dua kali lipat, dari Rp5,54 miliar menjadi Rp10,35 miliar, yang membuat perusahaan mencatat rugi usaha Rp2,61 miliar, berbalik dari laba usaha Rp4,53 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Meski rugi dari kegiatan usaha pokoknya, SSTM tetap membukukan laba bersih Rp14,24 miliar, naik dari Rp4,10 miliar tahun lalu. Kenaikan ini ditopang oleh pos pendapatan lain-lain senilai Rp17,90 miliar, jauh di luar penjualan benang dan kain yang menjadi bisnis utama perusahaan. Dengan laba bersih itu, defisit perusahaan mengecil dari Rp170,21 miliar menjadi Rp155,97 miliar dan total ekuitas naik dari Rp201,25 miliar menjadi Rp215,49 miliar. Laba bersih per saham tercatat Rp12,2, sementara dari kegiatan usaha saja perusahaan sebenarnya rugi Rp2,2 per saham.
Di sisi arus kas, kas yang dihasilkan dari kegiatan operasional turun tajam dari Rp5,28 miliar menjadi Rp1,81 miliar. Total liabilitas perusahaan juga turun 22 persen, dari Rp165,78 miliar menjadi Rp129,27 miliar, terutama karena uang muka penjualan dari pelanggan berkurang Rp36,49 miliar atau 44,44 persen dan utang pajak berkurang Rp4,46 miliar atau 19,83 persen. Perusahaan sekaligus menarik utang bank jangka pendek baru senilai Rp5,46 miliar, yang sebelumnya tidak ada. Dalam surat resmi ke Bursa Efek Indonesia tertanggal 26 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur Mahavo Pudjiarto, manajemen menyatakan perubahan liabilitas di atas 20 persen ini tidak berdampak negatif terhadap kinerja perseroan.
