Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,36 miliar pada September 2026, sedikit menurun dibandingkan US$3,55 miliar pada Agustus. Penyumbang utamanya tetap sektor nonmigas yang membukukan surplus US$5,67 miliar, sementara sektor migas, yakni minyak dan gas, mengalami defisit US$2,31 miliar. Kementerian Perdagangan menyebut capaian ini sebagai bukti ketahanan eksternal Indonesia, meski defisit migas yang melebar mulai menggerus sebagian surplus dari sektor nonmigas.
Tiga komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar pada September adalah lemak dan minyak hewani-nabati seperti minyak sawit senilai US$4,41 miliar, bahan bakar mineral US$2,58 miliar, serta besi dan baja US$1,85 miliar. Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan US$2,15 miliar, diikuti India US$1,66 miliar dan Filipina US$0,77 miliar.
Selisih ekspor dikurangi impor. Positif berarti surplus. Turun 0,20 miliar US$ dibanding Agustus 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (1.587,24).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Neraca Perdagangan. Diolah The Signal.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$10,61 miliar, terdiri atas surplus nonmigas US$34,21 miliar yang tergerus defisit migas US$23,60 miliar. Komoditas yang sama, yaitu minyak sawit, bahan bakar mineral, dan besi baja, tetap menjadi penopang utama dengan nilai masing-masing US$29,31 miliar, US$21,42 miliar, dan US$13,95 miliar. Amerika Serikat, India, dan Filipina konsisten menjadi tiga mitra dagang dengan kontribusi surplus terbesar, sementara Banglades, Pakistan, dan Mesir mulai masuk ke jajaran sepuluh mitra dagang teratas, menandakan upaya diversifikasi pasar di luar negara tujuan tradisional.
Kinerja ekspor Indonesia pada September 2026 tercatat US$27,59 miliar, tumbuh 3,68 persen dibandingkan Agustus dan 11,87 persen dibandingkan September tahun lalu. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama, dengan ekspor logam mulia dan perhiasan melonjak 116,33 persen, mesin dan perlengkapan elektrik naik 19,91 persen, serta karet dan barang karet naik 14,87 persen dari bulan sebelumnya. Secara kumulatif Januari-September, total ekspor mencapai US$221,23 miliar atau tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan industri pengolahan menyumbang 82,64 persen dari total ekspor dan tumbuh 8,93 persen. Produk hilirisasi mineral mencatat lonjakan tertinggi, yaitu aluminium naik 104,88 persen, tembaga naik 57,49 persen, dan nikel naik 47,87 persen, sementara Tiongkok tetap menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar dengan US$54,17 miliar atau 25,52 persen dari total, diikuti Amerika Serikat US$25,39 miliar dan India US$15 miliar.
Di sisi lain, impor September 2026 tercatat US$24,23 miliar, naik 5,09 persen dibandingkan Agustus dan 18,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong kenaikan impor barang modal sebesar 12,14 persen, barang konsumsi 6,40 persen, serta bahan baku dan penolong 3,12 persen. Kenaikan ini beriringan dengan Indeks Manajer Pembelian atau PMI manufaktur Indonesia yang melompat dari 49,8 pada Agustus ke 52,4 pada September, angka yang menandakan aktivitas pabrik sedang berekspansi karena sudah di atas ambang 50. Kementerian Perdagangan menilai lonjakan impor ini bersifat produktif karena sebagian besar untuk kebutuhan produksi, bukan konsumsi. Secara kumulatif Januari-September 2026, total impor Indonesia tercatat US$210,63 miliar.
