PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) menggelar Public Expose Insidentil pada 1 Oktober 2026 pukul 14.00 hingga 15.00 WIB melalui Zoom Meetings, dihadiri 50 peserta di luar manajemen dan karyawan perusahaan, terdiri dari pemegang saham, calon investor, dan perusahaan sekuritas seperti BNI Sekuritas serta manajer investasi seperti Ashmore dan Schroder. Acara dibuka oleh Direktur Welly Susanto dan turut dihadiri Direktur Didik Prasetyo, Corporate Secretary Alfon Mubarak, anggota Komite Nominasi dan Remunerasi Aries Subhan, serta Finance General Manager Fajril Amirul. Perusahaan menyebut acara ini sebagai bagian dari kewajiban keterbukaan informasi insidentil sesuai Peraturan Bursa I-E, yang mewajibkan perusahaan tercatat menggelar paparan publik jika ada peristiwa yang berpotensi memengaruhi nilai efek atau keputusan investor.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkapkan bahwa volume angkutan batubara (throughput) yang ditargetkan sampai akhir 2026 turun menjadi 5,13 juta ton, dari 7,1 juta ton pada 2025. Penyebab utamanya adalah keterlambatan penerbitan RKAB, yakni rencana kerja dan anggaran biaya tambang tahunan, oleh pemilik izin usaha pertambangan (IUP) yang menjadi mitra bongkar muat perusahaan. Sejalan dengan itu, target pendapatan 2026 ditetapkan Rp451 miliar dan laba sebelum pajak Rp62 miliar, keduanya lebih rendah dibanding realisasi 2025. Terkait dividen, manajemen menyatakan kebijakan baru akan diumumkan setelah laporan kinerja akhir tahun selesai, dengan pertimbangan kebutuhan dana untuk rencana ekspansi usaha dan pembangunan kantor baru di Banjarmasin.

Untuk menyiasati penurunan produksi batubara dari pemilik tambang, perusahaan menyebut tengah mengkaji ekspansi ke jasa kepelabuhanan di luar batubara lewat anak usahanya, PT Pelabuhan Talenta Bumi, yang telah berstatus Badan Usaha Kepelabuhanan (BUP) dan beroperasi sejak awal 2026. Langkah lain yang disebutkan adalah efisiensi biaya melalui penataan ulang stockpile untuk menghemat bahan bakar, serta penjajakan izin ekspor batubara seiring dimulainya bisnis trading. Secara bulanan, volume throughput tercatat naik dari 585 ribu ton pada Agustus 2026 menjadi 810 ribu ton pada September 2026, yang membuat manajemen optimistis kinerja kuartal III 2026 akan lebih baik dibanding kuartal sebelumnya meski data lengkapnya belum final.

Seorang analis dari Private Equity Holdings juga mempertanyakan perhitungan laba bersih periode Juli-Agustus 2026 yang disebut sebesar Rp27,2 miliar dengan margin 18,4 persen, namun belum memperhitungkan beban imbalan kerja dan pajak. Manajemen menjelaskan bahwa angka tersebut adalah hitungan sementara internal, dan setelah dikurangi estimasi pajak badan 15,8 persen serta beban imbalan kerja, laba bersih diperkirakan turun sekitar 3 persen dari angka yang dipaparkan tersebut, dengan perhitungan final menyusul saat tutup buku kuartal III 2026. Manajemen juga menegaskan ekspansi trading batubara dan komoditas non-batubara untuk konsumsi internal grup akan tetap mengacu pada aturan pasar modal terkait kewajaran harga dan persetujuan transaksi.