PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, lewat surat bernomor 020/TGRA-IDXOJK/IX/2026 tertanggal 29 September 2026. Dalam dokumen itu perseroan kembali mencatat pendapatan usaha nol rupiah, sama seperti semester I 2025, karena keempat belas anak usahanya yang bergerak di pembangkit listrik tenaga air dan mini hidro di Sumatera Utara, Kalimantan, Sumatera Selatan, Aceh, dan Jakarta semuanya masih berstatus belum beroperasi secara komersial. Kepemilikan TGRA di anak-anak usaha itu berkisar dari 70 persen hingga 99,99 persen.
Tanpa pendapatan, rugi bersih semester I 2026 tercatat Rp5,11 miliar, lebih kecil dari rugi komprehensif Rp12,91 miliar pada semester I 2025. Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp4,84 miliar dari Rp11,23 miliar, setara rugi per saham dasar Rp1,76 dibanding Rp4,08 tahun sebelumnya. Namun penurunan itu terutama karena tidak ada lagi beban klaim bank garansi sebesar Rp8,29 miliar yang membebani laporan tahun lalu. Beban operasional inti, yakni beban umum dan administrasi, nyaris tidak berubah dari Rp2,37 miliar menjadi Rp2,34 miliar, dan beban bunga turun tipis menjadi Rp1,94 miliar dari Rp2,3 miliar.
Di sisi neraca, jumlah ekuitas turun dari Rp51,42 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp46,3 miliar per 30 Juni 2026, dengan bagian yang menjadi hak pemilik entitas induk turun dari Rp38,54 miliar menjadi Rp33,7 miliar. Defisit perseroan membengkak menjadi Rp277,25 miliar dari Rp272,41 miliar. Sementara itu, utang kepada pihak berelasi jangka pendek naik dari Rp98,84 miliar menjadi Rp102,65 miliar, jumlah yang kini lebih dari dua kali total ekuitas perseroan dan menjadi sumber pendanaan utama operasional di tengah ketiadaan pendapatan usaha. Kas dan setara kas perseroan tercatat Rp170,85 juta per akhir Juni 2026, naik dari Rp121,03 juta per akhir 2025.
