PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) membukukan rugi bersih Rp25,29 miliar untuk sembilan bulan pertama 2026, menurut laporan keuangan interim yang diaudit oleh KAP Irwanto dan Rekan dengan partner audit Nino Berlianto. Auditor memberikan opini wajar tanpa modifikasian, tetapi menambahkan paragraf khusus yang menyebut adanya ketidakpastian material atas kemampuan perusahaan melanjutkan usahanya. Sepanjang periode ini TGRA belum mencatat pendapatan sama sekali, kondisi yang juga terjadi pada 2025 dan 2024. Akibatnya saldo defisit perusahaan membengkak dari Rp272,41 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp293,10 miliar pada akhir September 2026, dan liabilitas jangka pendek sudah melampaui aset lancar sebesar Rp157,43 miliar.
Hal audit utama yang disorot auditor adalah aset dalam pembangunan senilai Rp159,92 miliar, atau 84,8 persen dari total aset Grup, yang seluruhnya berupa tanah untuk proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan total kapasitas hingga 510,8 megawatt di beberapa daerah. Lima proyek PLTMH sudah memiliki perjanjian jual beli listrik dengan pihak ketiga, dan dua proyek PLTA sudah mendapat izin prinsip serta izin lokasi, tetapi perusahaan masih mencari sumber pembiayaan dari pihak ketiga, baik berupa pinjaman maupun investasi, dan belum memperolehnya sampai akhir September 2026. Jika pembangunan PLTMH dan PLTA dihentikan, sebagian biaya yang sudah dikapitalisasi menjadi aset tersebut akan berubah jadi kerugian investasi. Pada tahun ini perusahaan sudah mencatat penurunan nilai sebesar Rp17,79 miliar atas aset dalam pembangunan tersebut, yang membebani laporan laba rugi sembilan bulan ini.
Dari sisi posisi keuangan, total aset TGRA turun dari Rp206,45 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp188,57 miliar pada akhir September 2026, sementara total liabilitas naik dari Rp155,04 miliar menjadi Rp161,71 miliar. Kenaikan liabilitas terutama berasal dari utang kepada pihak berelasi jangka pendek yang bertambah dari Rp98,84 miliar menjadi Rp105,02 miliar. Kas perusahaan hanya Rp151,98 juta, sementara total ekuitas merosot hampir separuh dari Rp51,42 miliar menjadi Rp26,86 miliar dalam sembilan bulan. Rugi per saham tercatat Rp9 untuk periode ini, dibandingkan Rp94,29 untuk sepanjang tahun 2025. Saham TGRA sendiri saat ini diperdagangkan di papan pemantauan khusus alias watchlist Bursa Efek Indonesia.
