PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) mengungkapkan bahwa pemegang saham pengendali perseroan telah meneken perjanjian investasi secara sirkuler dengan dua calon investor, PT Adidaya Mandiri Sejahtera dan PT Hilal Arkan Energi, yang disebut sebagai Konsorsium Investor. Perjanjian itu memuat rencana investasi awal secara tunai melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, yaitu penerbitan saham baru yang tidak ditawarkan lebih dulu kepada pemegang saham lama. Menurut manajemen, kesepakatan ini juga memuat rencana strategis menciptakan pendapatan bagi TGRA agar bisa keluar dari sanksi suspensi saham di bursa dan melanjutkan pembangunan sejumlah PLTMH yang selama ini terkendala masalah keuangan.
Dalam laporan perkembangan yang disertakan, sejumlah tahapan sudah rampung 100 persen, antara lain penyediaan ruang data virtual bagi calon mitra, penandatanganan Head of Agreement pada 7 April 2026 di Bumi Serpong Damai, uji tuntas oleh konsultan mitra strategis pada 29 Mei sampai 29 Juni 2026, dan penerbitan laporan keuangan audited 2025 yang telah dikirim ke sistem pelaporan elektronik bursa pada 7 September 2026. Audit laporan keuangan per 30 September 2026 baru mencapai 50 persen, sementara penyelesaian kewajiban administrasi ke BEI, OJK, dan KSEI baru 70 persen dan disebut akan dipercepat. Penunjukan profesi penunjang pasar modal sudah 90 persen rampung, dengan KJPP, KAP, notaris, dan Biro Administrasi Efek sudah ditunjuk, sedangkan konsultan hukum masih dalam proses dengan target Oktober 2026.
Untuk pelaksanaan private placement itu sendiri, TGRA menjadwalkan laporan rencana RUPS ke OJK pada 3 November 2026, pengumuman RUPS pada 10 November, tanggal pencatatan pemegang saham pada 24 November, pemanggilan RUPS pada 25 November, serta penyelenggaraan RUPST dan RUPSLB pada 17 Desember 2026. Setelah itu, pengumuman hasil RUPS dijadwalkan 21 Desember, permohonan pencatatan saham ke BEI 23 Desember, distribusi saham baru pada 6 Januari 2027, dan pencatatan saham hasil private placement di bursa pada 7-8 Januari 2027. Perseroan menyebut progres tahap ini baru 25 sampai 50 persen karena masih menunggu hasil valuasi saham dan negosiasi harga dari KJPP, serta menunggu hasil audit laporan keuangan per 30 September 2026 yang akan menjadi dasar penentuan harga saham baru.
