PT Timah (Persero) Tbk (TINS) menggelar Public Expose Tahunan 2026 pada Kamis, 10 September 2026 pukul 10.00-11.00 WIB secara daring melalui pubexlive.idx.co.id, dihadiri 173 peserta terdaftar dari kalangan investor, analis, media, dan publik. Presentasi disampaikan bergantian oleh Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha Harry Budi Sidharta, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Fina Eliani, serta Direktur Produksi dan Komersial Ilhamsyah Mahendra, dibuka oleh Ruddy Nursalam selaku Division Head of Corporate Secretary dengan moderator Wicky Adrian. Materi yang dipaparkan mencakup kinerja operasi dan keuangan sampai Juli 2026, komitmen ESG, serta strategi peningkatan produksi.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen menyebut konsumsi timah global sampai Juli 2026 mencapai 179.000 ton, naik dibanding tahun sebelumnya, sementara produksi global semester I 2026 baru 173.000 ton sehingga ada kesenjangan sekitar 3 persen antara pasokan dan permintaan. Perseroan memproyeksikan harga timah bertahan di kisaran US$47.000 sampai US$55.000 per ton sepanjang 2026 karena defisit pasokan itu, sementara konsumsi domestik masih stagnan di kisaran 4.000 sampai 5.000 ton per tahun.

Soal biaya produksi, cash cost Timah hingga semester I 2026 tercatat US$22.435 per metrik ton dan diproyeksikan naik ke kisaran US$23.000 sampai US$24.000 per metrik ton pada akhir tahun, terutama akibat kenaikan harga BBM yang mengerek biaya bahan baku dan suku cadang. Manajemen mengklaim margin tetap terjaga karena harga jual timah juga lebih tinggi. Untuk 2026, Perseroan menargetkan belanja modal (capex) Rp446 miliar, dengan 90 persen dialokasikan untuk operasi produksi dan eksplorasi, dan 10 persen untuk investasi non-rutin termasuk migrasi sistem ERP dari SAP ECC 6 ke SAP S/4HANA.

Perseroan juga mengungkapkan sedang menjajaki sekitar tiga calon mitra teknologi untuk mengelola cadangan logam tanah jarang di Bangka Belitung, bekerja sama dengan Perminas dan Badan Investasi Mineral, dengan target penentuan mitra rampung pada 2026 sebelum masuk tahap investasi teknologi pengolahan. Menjawab pertanyaan soal proyeksi laba bersih semester II 2026, manajemen menyebut Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2026 tentang tata kelola pertambangan timah dari hulu ke hilir berpotensi membuka ruang pertumbuhan produksi bijih, khususnya di area operasi Belitung, yang disebut sebagai salah satu pendorong kinerja pada semester kedua tahun ini.