PT Timah (Persero) Tbk membukukan pendapatan usaha Rp16,15 triliun pada sembilan bulan pertama 2026 (9M 2026), naik 144% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,61 triliun. Laba usaha melonjak 594% menjadi Rp5,60 triliun dari Rp807,25 miliar, sementara EBITDA naik 323% menjadi Rp6,18 triliun. Laba bersih tercatat Rp4,12 triliun, naik 584% dibandingkan Rp602,42 miliar pada 9M 2025, yang menurut perusahaan merupakan rekor tertinggi untuk periode sembilan bulan. Margin laba bersih ikut menguat dari 9,12% menjadi 25,52%.

Dari sisi posisi keuangan, total aset per 30 September 2026 mencapai Rp17,26 triliun, naik 26% dari akhir 2025 sebesar Rp13,64 triliun. Total liabilitas relatif stabil di Rp5,29 triliun, naik sekitar 1% dari Rp5,23 triliun, sedangkan ekuitas melonjak 42% menjadi Rp11,97 triliun dari Rp8,41 triliun seiring akumulasi laba. Return on Equity naik dari 8% menjadi 34,42%. Arus kas dari aktivitas operasi berbalik positif Rp4,09 triliun, dari sebelumnya minus Rp388,64 miliar pada 9M 2025, dengan saldo kas akhir periode Rp4,25 triliun dibandingkan Rp1,34 triliun setahun sebelumnya.

Secara operasional, produksi bijih timah naik 55% menjadi 18.883 ton Sn, dengan kontribusi dari tambang darat 7.338 ton (naik 63%) dan tambang laut 11.545 ton (naik 50%). Produksi logam timah naik 49% menjadi 16.190 metrik ton, sementara volume penjualan melonjak 72% menjadi 16.304 metrik ton. Harga jual rata-rata logam timah Perseroan naik 52% menjadi US$51.011 per metrik ton, mengikuti harga acuan Cash Settlement Price LME yang rata-rata US$51.636,61 per metrik ton, naik 57,55% dari tahun sebelumnya. Penjualan masih didominasi ekspor sebesar 96%, dengan China sebagai tujuan terbesar (30%), disusul Korea Selatan (12%), India (11%), Jepang (9%), Belanda (8%), dan Singapura (7%). Perusahaan juga mencatat gangguan pasokan karena aktivitas pertambangan anak usaha Malaysia Smelting Corporation dihentikan sementara pada 12 Agustus hingga 11 September 2026 akibat kerusakan sistem drainase dan kolam penampungan setelah hujan ekstrem.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyebut capaian laba bersih tersebut sebagai hasil penguatan produktivitas, optimalisasi usaha, dan disiplin pengelolaan keuangan. Perusahaan mencatat sumber daya timah 797 ribu ton Sn dan cadangan 311 ribu ton Sn per September 2026, serta menyatakan akan terus mencermati dinamika harga timah global dan ketidakpastian pasokan menjelang kuartal terakhir 2026.