PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melaporkan hasil pelaksanaan Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia. Acara yang digelar secara daring pada Senin, 7 September 2026 pukul 10.00 hingga 11.00 WIB itu dihadiri 178 peserta dari luar Perseroan, terdiri dari investor, media, dan masyarakat umum. Direksi yang memaparkan materi adalah Direktur Utama Dian Siswarini, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Arthur Angelo Syailendra, Direktur Wholesale & International Service Budi Satria Dharma Purba, Direktur Enterprise & Business Service Veranita Yosephine, dan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan.

Dalam paparan kinerja, manajemen menyebut pendapatan semester pertama 2026 tumbuh 3,9 persen dibanding periode sama tahun lalu menjadi Rp75,9 triliun, dengan laba bersih yang juga tetap tumbuh positif. Pendapatan rata-rata per pelanggan seluler Telkomsel naik 9 persen menjadi Rp45,6 ribu, yang menurut manajemen mencerminkan perbaikan harga jual layanan data. Perseroan juga menyebut lebih dari 94 persen belanja modal atau capex pada semester pertama dialokasikan ke bisnis inti B2C dan B2B Infrastruktur, dan menegaskan tidak mengubah panduan kinerja 2026: pertumbuhan pendapatan ternormalisasi 1 sampai 3 persen, margin EBITDA di atas 50 persen, serta rasio capex terhadap pendapatan 17 sampai 19 persen.

Soal aksi korporasi, manajemen mengonfirmasi Fase 1 pembentukan Infranexia, entitas pengelola aset fiber optik, telah rampung Desember 2025 dengan nilai transaksi sekitar Rp35,8 triliun, mencakup pengalihan lebih dari separuh aset fiber terpilih Telkom. Fase 2 masih berjalan dan ditargetkan selesai akhir September hingga awal Oktober 2026, mundur dari jadwal awal karena ada pekerjaan tambahan usai penyajian kembali laporan keuangan tahun buku 2025. Telkom juga tengah menjajaki pelepasan 70 persen saham PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC dengan nilai transaksi sekitar US$1,5 miliar, serta berencana mengambil alih 100 persen saham Digiserve untuk memperkuat segmen B2B ICT. Soal dividen, manajemen menyebut tidak ada rencana dividen interim untuk kinerja semester I 2026, dan asumsi rasio pembagian dividen tetap berkisar 60 sampai 90 persen dari laba bersih, dengan keputusan akhir menunggu persetujuan RUPS tahun buku.

Menjawab pertanyaan media soal investasi Telkomsel di GoTo yang mencatat kerugian belum terealisasi senilai Rp5 triliun, manajemen menyebut pergerakan harga saham tidak mencerminkan manfaat strategis dari kemitraan tersebut dan investasi akan terus dievaluasi secara berkala. Manajemen juga merespons positif potensi konsolidasi di industri seluler dan menara telekomunikasi, serta menyebut rencana konsolidasi aset fiber optik milik BUMN lain, termasuk PT PLN, masih dalam tahap kajian dan belum ada keputusan entitas yang akan digabungkan.