PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengoreksi suratnya kepada Bursa Efek Indonesia tertanggal 2 September 2026 perihal Penyampaian Materi Public Expose Tahunan. Surat koreksi ini ditandatangani AVP Shareholder Relation Telkom, Limiati Purnomo, pada 4 September 2026, dan melampirkan ulang materi presentasi untuk Public Expose Live 2026 yang akan digelar 7 September 2026. Materi tersebut memaparkan kinerja semester I 2026 (1H26) dengan lima narasumber, yaitu Direktur Utama Dian Siswarini, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Indonesia Arthur Angelo Syailendra, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan, Direktur Wholesale dan International Service Budi Satria Dharma Purba, serta Direktur Enterprise dan Business Service Veranita Yosephine.
Dari sisi keuangan, pendapatan konsolidasian Telkom pada 1H26 tercatat Rp75,9 triliun, naik 3,9 persen dibanding periode sama tahun lalu. EBITDA naik 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun dengan margin 49,4 persen, sementara laba bersih naik 1,4 persen menjadi Rp10,6 triliun dengan margin 14 persen. Jika dampak kerugian investasi di GOTO dikeluarkan dari perhitungan, harga saham GOTO turun dari Rp58 per lembar pada akhir 1H25 menjadi Rp50 per lembar pada akhir 1H26, laba bersih ternormalisasi Telkom mencapai Rp11,3 triliun, naik 6,2 persen. Anak usaha Telkomsel, sebelum eliminasi antar-segmen, membukukan pendapatan Rp55,6 triliun (naik 3,3 persen) dan EBITDA Rp26,1 triliun (naik 8,6 persen) dengan margin 46,9 persen. Berdasarkan segmen bisnis, pendapatan konsolidasian B2C tercatat Rp54,7 triliun (naik 4,8 persen), B2B Infra Rp4,66 triliun (naik 4,9 persen), B2B ICT Rp7,28 triliun (turun 1,3 persen), International Rp5,74 triliun (turun 1,5 persen), dan segmen lainnya Rp3,47 triliun (naik 10,4 persen).
Untuk panduan tahun 2026, Telkom menargetkan pertumbuhan pendapatan 1-3 persen, margin EBITDA di atas 50 persen, dan rasio belanja modal terhadap pendapatan 17-19 persen. Realisasi hingga 1H26 sudah mencatat pertumbuhan pendapatan 3,9 persen dan margin EBITDA 49,4 persen, sementara rasio belanja modal baru 14,2 persen. Perseroan juga memenangkan lelang tambahan 100 MHz spektrum sehingga total spektrum yang dikuasai naik dari 165 MHz menjadi 265 MHz, dengan biaya tahunan spektrum sekitar Rp1 triliun. Proyek pemisahan aset fiber InfraNexia Tahap-1 telah rampung Desember 2025, mencakup lebih dari 50 persen aset fiber terpilih dengan nilai transaksi Rp35,8 triliun, dan Tahap-2 ditargetkan selesai pada semester kedua 2026. Di bisnis pusat data, kapasitas efektif tercatat 49,9 MW ditambah 3.060 rak neuCentrIX, dengan pendapatan Rp867 miliar, naik 11 persen dibanding tahun lalu. Telkom juga menyelesaikan divestasi AdMedika dan TelkoMedika dengan dana tunai sekitar Rp880 miliar dan keuntungan sebelum pajak sekitar Rp530 miliar.
