Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha ekspor-impor mengoptimalkan skema Transaksi Mata Uang Lokal atau Local Currency Transaction (LCT), yang memungkinkan pembayaran dagang langsung memakai mata uang negara mitra tanpa harus dikonversi dulu ke mata uang pihak ketiga seperti dolar AS. Mekanisme ini diharapkan memangkas biaya dan waktu transaksi lintas negara sehingga daya saing produk Indonesia di pasar global ikut terdongkrak. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam forum bertajuk "Local Currency, Global Opportunity" yang digelar di sela Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Jumat (16/10), hasil kerja sama Kementerian Perdagangan dengan Bank Indonesia selaku regulator utama skema ini.
LCT telah dirintis sejak 2018 dan kini mencakup enam negara mitra, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, dengan rencana perluasan ke Singapura dan India. Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono menyatakan bank sentral berkomitmen menyiapkan infrastruktur agar pelaku usaha makin mengenal dan memakai skema ini. Nilai transaksi LCT pada Januari-Agustus 2026 tercatat setara US$49,42 miliar dengan rata-rata 20.850 nasabah per bulan, naik dibandingkan capaian sepanjang tahun 2025 yang sebesar US$25,74 miliar dengan rata-rata 9.720 nasabah per bulan.
Wamendag Roro menilai pemanfaatan LCT masih bisa diperluas lagi karena nilainya tetap jauh lebih kecil dibandingkan total perdagangan bilateral Indonesia dengan negara-negara mitra tersebut. Ia mengajak eksportir dan importir berkonsultasi dengan bank yang ditunjuk sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) untuk memahami mekanisme dan manfaat LCT bagi bisnis mereka. Head of Finance Department PT Obsidian Stainless Steel, Wang Qi, mencontohkan perusahaannya membayar kebutuhan operasional di dalam negeri dengan rupiah, sementara penjualan produk nikel dan baja nirkaratnya ke pasar Tiongkok kini bisa dibayar langsung memakai yuan tanpa mampir ke dolar AS, sehingga prosesnya lebih cepat dan murah.
Selain Wamendag Roro dan Thomas Djiwandono, forum ini juga menghadirkan Direktur Departemen Internasional Bank Indonesia Irfan Hendrayadi, Atase Perdagangan RI Beijing Junita Syartika, dan VP International Payment Specialist BCA Syiska D. Ventia, serta diikuti ratusan peserta dari kalangan pemerintah, pelaku usaha, dan perbankan.
