PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) menyampaikan laporan keuangan interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Laba bersih perusahaan tercatat Rp488,66 miliar, naik 31,2 persen dari Rp372,53 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba yang menjadi bagian pemegang saham induk sebesar Rp477,22 miliar membuat laba per saham naik dari Rp52,39 menjadi Rp67,13. Pertumbuhan laba ini ditopang kenaikan pendapatan di hampir semua lini usaha, antara lain jasa manajer investasi menjadi Rp491,11 miliar, pembiayaan transaksi nasabah Rp545,34 miliar, dan komisi perantara efek Rp238,33 miliar.
Total aset perusahaan dan entitas anak per 30 September 2026 mencapai Rp9,28 triliun, naik Rp2,46 triliun atau 35,96 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp6,83 triliun. Karena kenaikan ini melebihi 20 persen, sesuai Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor I-E, Direktur TRIM David Agus mengirim surat penjelasan resmi ke BEI pada 29 Oktober 2026. Surat itu menyebut kenaikan aset terutama berasal dari bertambahnya portofolio efek neto Rp1,25 triliun dan piutang transaksi perantara pedagang efek Rp1,46 triliun, sementara kas dan setara kas justru turun Rp145,81 miliar dan piutang reverse repo neto turun Rp149,55 miliar. Di sisi liabilitas, total utang naik Rp1,96 triliun atau 41,26 persen menjadi Rp6,71 triliun, didorong kenaikan utang transaksi perantara pedagang efek Rp1,84 triliun, yang menurut perusahaan terjadi karena lonjakan transaksi saham dan obligasi pada dua hari bursa terakhir September 2026.
Kenaikan portofolio efek sebesar Rp1,25 triliun sebagian besar dipakai untuk membeli lima seri obligasi dan sukuk, yaitu Obligasi Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap V 2026 senilai Rp414,40 miliar, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I PNM Tahap V 2026 Seri A senilai Rp200 miliar, Obligasi II Merdeka Battery Materials 2024 Seri B senilai Rp149,43 miliar, SBSN Seri PBS003 senilai Rp299,61 miliar, dan Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0111 senilai Rp129,69 miliar. Pembelian ini turut dibiayai dari utang jangka pendek yang naik neto Rp70 miliar, hasil dari penarikan fasilitas pinjaman dari lima bank, yakni CIMB Niaga Rp100 miliar, BCA Rp320 miliar, SMBC Rp100 miliar, KEB Hana Rp150 miliar, dan Danamon Rp70 miliar, dikurangi pelunasan ke Bank Victoria Rp100 miliar, Bank Jago Rp200 miliar, Maybank Rp170 miliar, Bank INA Rp100 miliar, dan Bank Panin Rp100 miliar. Surat utang jangka panjang turun neto Rp61,92 miliar setelah perusahaan melunasi dua seri obligasi yang jatuh tempo Juli 2026 senilai total sekitar Rp459,34 miliar, meski sebagian sudah diganti dengan penerbitan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I 2026 Seri A dan B senilai total Rp400 miliar.
Dari sisi ekuitas, laporan perubahan ekuitas mencatat perusahaan membagikan dividen tunai Rp7,11 miliar dan dividen kepada pemegang saham non-pengendali Rp10,09 miliar selama sembilan bulan ini. Kepentingan non-pengendali juga bertambah Rp23,69 miliar dari setoran modal baru ke salah satu entitas anak. Total ekuitas perusahaan naik dari Rp2,07 triliun menjadi Rp2,57 triliun.
