PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD) menjawab surat permintaan penjelasan lanjutan Bursa Efek Indonesia bernomor S-11943/BEI.PP2/09-2026. Perusahaan merinci kenaikan harga pokok penjualan (HPP) sebesar 68,8 persen atau Rp88,1 miliar, yang berasal dari perubahan volume penjualan Rp36,3 miliar (28 persen kontribusi), kenaikan harga barang impor Rp9,7 miliar (8 persen), pelemahan kurs rupiah Rp7,5 miliar (6 persen), biaya freight dan logistik Rp13,9 miliar (11 persen), penurunan harga jual Rp11,0 miliar (9 persen), perubahan bauran produk Rp2,7 miliar (2 persen), dan faktor lain Rp7,0 miliar (5 persen). Akibatnya, margin laba kotor turun di semua segmen, dengan margin sepeda listrik anjlok dari 37,5 persen menjadi hanya 2,5 persen.

Perusahaan juga mengonfirmasi pengalihan jaringan distribusi dari PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (SBI) ke PT Bintang Mas Lestari (BML), efektif sejak 1 Mei 2026, menyusul berakhirnya status SBI sebagai pihak berelasi dan berakhirnya perjanjian distributor dengan SBI pada akhir April 2026. Penjualan ke BML melonjak dari Rp4,5 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp132,6 miliar pada semester I 2026, atau setara 61,2 persen dari total penjualan Perseroan. Sebagai mitigasi risiko ketergantungan, manajemen menyebut rencana menambah distributor independen baru di wilayah sekunder, membagi volume ke distributor skala menengah, dan mengembangkan kanal penjualan langsung ke konsumen.

Soal kepatuhan terhadap syarat pinjaman bank (covenant) per 30 Juni 2026, UNTD melaporkan rasio EBITDA terhadap kewajiban bunga dan cicilan ke Bank BCA hanya 0,40 kali, tidak memenuhi syarat minimal 1 kali, meski dua syarat lain ke BCA yaitu rasio utang terhadap ekuitas 1,20 kali dan rasio lancar 1,62 kali masih terpenuhi. EBITDA Perseroan tercatat minus Rp23,8 miliar. Ke Bank OCBC NISP, seluruh syarat masih terpenuhi, namun fasilitas kredit itu baru diperpanjang sementara sampai 27 September 2026 dengan syarat baru berupa peningkatan nilai jaminan hak tanggungan atas tanah dan bangunan menjadi minimal 125 persen dari nilai appraisal terbaru. Penandatanganan akad amandemen perpanjangan dijadwalkan 24 September 2026.

Perusahaan turut melaporkan akumulasi rugi fiskal Rp80,5 miliar yang dapat dikompensasikan hingga tahun pajak 2031, dengan proyeksi laba kena pajak Rp12,0 miliar pada 2027, Rp18,5 miliar pada 2028, dan Rp25,0 miliar pada 2029 untuk mendukung pemulihan aset pajak tangguhan Rp3,6 miliar. Realisasi dana hasil penawaran umum per 30 Juni 2026 mencapai Rp248,1 miliar dari rencana alokasi Rp384,6 miliar, dengan rincian realisasi komponen frame 60 persen, baterai/dinamo 67 persen, wheel set 65 persen, multi-information display 95 persen, sistem rem 96 persen, dan suspensi 77 persen, menyisakan total alokasi belum terpakai Rp136,5 miliar.