PT Terang Dunia Internusa Tbk. (UNTD) menjawab surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia terkait laporan keuangan periode 30 Juni 2026, lewat surat tertanggal 8 September 2026. Perseroan menjelaskan bahwa harga pokok penjualan naik 68,8 persen sementara penjualan hanya naik 20,9 persen, sehingga terjadi rugi bruto. Penyebabnya adalah kenaikan harga barang impor akibat pelemahan rupiah, naiknya biaya logistik dan freight, serta dampak konflik geopolitik di Timur Tengah termasuk konflik Iran terhadap biaya transportasi dan nilai tukar. Di saat bersamaan harga jual sejumlah produk turun karena persaingan pasar, dan bauran produk bergeser ke motor serta sepeda listrik yang mengubah struktur margin. Margin segmen sepeda listrik sendiri anjlok dari 37,5 persen menjadi 2,5 persen.
Perseroan juga mengungkap penjualan ke PT Bintang Mas Lestari melonjak dari Rp4,5 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp132,6 miliar atau 61,2 persen dari total penjualan pada semester I 2026. Lonjakan ini terjadi karena jaringan distribusi dialihkan dari PT Sepeda Bersama Indonesia (SBI), menyusul berakhirnya status SBI sebagai pihak berelasi pada 15 April 2026 serta berakhirnya lisensi merek United Bike/Avand dan perjanjian distributor pada 12 April 2026. Perseroan menegaskan tetap menjadi pemilik hak atas merek United Bike, Avand, dan United E-Motor, dan sebelumnya hanya memberikan lisensi penggunaan merek kepada SBI dalam kapasitasnya sebagai distributor.
Soal pendanaan, Perseroan menjelaskan rasio DSCR minimum 1,0 kali pada fasilitas BCA dievaluasi setahun sekali saat perpanjangan fasilitas, sehingga belum tercapainya rasio itu per 30 Juni 2026 tidak dianggap pelanggaran perjanjian. Adapun fasilitas pinjaman dari OCBC baru diperpanjang sementara sampai 27 September 2026 karena bank mengajukan sejumlah persyaratan baru yang masih dievaluasi direksi. Utang bank jangka pendek Perseroan tercatat Rp481 miliar, dengan strategi pengelolaan berupa negosiasi refinancing sebelum jatuh tempo dan optimalisasi arus kas. Akumulasi rugi fiskal mencapai Rp80,5 miliar, namun aset pajak tangguhan yang diakui hanya Rp3,6 miliar karena manajemen menilai masih ada ketidakpastian soal kapan laba bisa pulih.
Dalam surat yang sama, Perseroan melaporkan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum per 30 Juni 2026. Dari total realisasi Rp248,12 miliar, rinciannya adalah frame Rp162,01 miliar (65 persen), baterai/dinamo Rp44,08 miliar (18 persen), multi information display seperti spidometer digital dan GPS Rp20,28 miliar (8 persen), brake system Rp9,82 miliar (4 persen), suspension Rp7,71 miliar (3 persen), dan wheel set Rp4,22 miliar (2 persen). Sisa dana yang belum direalisasikan tercatat Rp136,49 miliar.
