United Tractors Tbk (UNTR) melaporkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp742,22 miliar untuk semester I 2026, anjlok 91 persen dibandingkan Rp8,37 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba yang menjadi hak pemegang saham utama, tidak termasuk pemegang saham minoritas di anak usaha, turun dari Rp8,13 triliun menjadi Rp956,28 miliar, sehingga laba per saham ikut merosot dari Rp2.239 menjadi Rp271. Pendapatan bersih perseroan juga menyusut dari Rp68,53 triliun menjadi Rp58,29 triliun, sementara laba kotor turun dari Rp15,01 triliun menjadi Rp10,51 triliun.
Penyebab utama anjloknya laba adalah kerugian penurunan nilai investasi pada ventura bersama dan piutang non-usaha senilai Rp2,75 triliun yang tercatat pada semester I 2026, pos yang tidak ada di laporan periode sebelumnya. Beban umum dan administrasi juga naik dari Rp2,85 triliun menjadi Rp3,92 triliun, sedangkan beban penjualan naik dari Rp484,34 miliar menjadi Rp858,42 miliar. Beban pajak penghasilan tercatat Rp1,26 triliun, jauh lebih rendah dari Rp2,64 triliun tahun lalu, sejalan dengan laba sebelum pajak yang turun dari Rp11,01 triliun menjadi Rp2 triliun.
Dari sisi neraca, kas dan setara kas perseroan turun dari Rp26,57 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp18,65 triliun per 30 Juni 2026. Dalam periode yang sama, UNTR tetap membagikan dividen tunai final tahun buku 2025 senilai total Rp4,16 triliun kepada seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham nonpengendali, serta membeli kembali saham sendiri senilai Rp2,22 triliun sehingga saldo saham treasuri membengkak dari Rp4,90 triliun menjadi Rp7,12 triliun. Pinjaman bank jangka pendek naik dari Rp560 miliar menjadi Rp902,42 miliar, dan bagian pinjaman bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun naik dari Rp9,68 triliun menjadi Rp14,14 triliun. Total ekuitas perseroan sedikit menyusut dari Rp103,14 triliun menjadi Rp101,75 triliun.
Laporan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada 31 Agustus 2026 ini merupakan koreksi atas laporan keuangan interim yang sebelumnya sudah dipublikasikan, dan telah ditelaah secara terbatas oleh auditor, bukan diaudit penuh.
