Unilever Indonesia menegaskan bahwa keberlanjutan tidak lagi cukup dijalankan sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan yang terpisah dari bisnis inti. Prinsip itu, menurut perusahaan, perlu menyatu dengan seluruh tahapan usaha, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, sampai pengelolaan kemasan setelah dipakai konsumen. Pernyataan ini menunjukkan pergeseran cara salah satu produsen barang konsumsi terbesar di Indonesia memperlakukan isu lingkungan, dari sekadar kegiatan amal menjadi bagian dari cara mereka berbisnis sehari-hari.
Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus, menyampaikan hal itu dalam diskusi bertajuk Growing with Purpose di ajang Katadata SAFE 2026, Sabtu (19/9/2026). Ia menyebut komitmen keberlanjutan perusahaan sudah berjalan lebih dari 20 tahun dan kini memasuki fase ketiga, dengan target emisi nol bersih pada 2039. Bedanya dengan fase-fase sebelumnya, kata Nurdiana, keberlanjutan kini melekat langsung pada proses bisnis, bukan lagi program tambahan di luar operasional.
Pada sisi bahan baku, Unilever menjalankan komitmen penelusuran asal bahan atau sustainable sourcing sejak 2010, sehingga perusahaan bisa memastikan bahan yang dipakai berasal dari sumber yang ramah bagi manusia dan lingkungan. Di lini produksi, prinsip serupa diterapkan lewat standar operasional dan sistem penjaminan mutu untuk menjaga keamanan dan kualitas produk.
Untuk kemasan, Unilever memegang empat komitmen soal plastik: mengurangi penggunaan plastik baru, memperbanyak pemakaian material daur ulang, mengembangkan kemasan yang bisa didaur ulang, dipakai ulang, atau terurai secara hayati, serta mengumpulkan dan mengolah sampah plastik dalam jumlah yang melebihi total plastik yang mereka pakai. Nurdiana menyebut seluruh komitmen ini berasal dari kebijakan global perusahaan dan diterapkan di semua pasar, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu dari lima pasar terbesar Unilever di dunia.
