Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II-2026 naik 4,4 persen secara tahunan menjadi US$453,4 miliar. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 30,6 persen. BI menyebut posisi ULN pada periode ini tetap terjaga, ditopang oleh peningkatan utang publik, yaitu pemerintah dan bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan utang sektor swasta.

Utang luar negeri pemerintah tercatat US$216,3 miliar, tumbuh 2,9 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 3,8 persen pada triwulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh aliran masuk dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN), yang menurut BI mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Hampir seluruh utang pemerintah berbentuk utang jangka panjang, sehingga BI menilai posisinya relatif aman dan terkendali.

Angka BPSPertumbuhan ekonomi
5,29%Triwulan II 2026

Pertumbuhan PDB dibanding triwulan yang sama tahun lalu. Turun 0,32 poin dibanding Triwulan I 2026.

Triwulan I 2024: 5,11%Triwulan II 2024: 5,05%Triwulan III 2024: 4,95%Triwulan IV 2024: 5,02%Triwulan I 2025: 4,87%Triwulan II 2025: 5,12%Triwulan III 2025: 5,04%Triwulan IV 2025: 5,39%Triwulan I 2026: 5,61%Triwulan II 2026: 5,29%TwITwIITwIIITwIVTwITwIITwIIITwIVTwITwII2024202520265,614,87Triwulan I 2024: 5,11%Triwulan II 2024: 5,05%Triwulan III 2024: 4,95%Triwulan IV 2024: 5,02%Triwulan I 2025: 4,87%Triwulan II 2025: 5,12%Triwulan III 2025: 5,04%Triwulan IV 2025: 5,39%Triwulan I 2026: 5,61%Triwulan II 2026: 5,29%TwITwIIITwITwIIITwITwII2024202520265,614,87

Sumber: Badan Pusat Statistik, [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Seri 2010. Diolah The Signal.

Berdasarkan sektor pemanfaatannya, utang pemerintah paling banyak dipakai untuk jasa kesehatan dan kegiatan sosial, yaitu 22 persen dari total ULN pemerintah, disusul administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.

Sementara itu, kenaikan utang bank sentral terutama berasal dari bertambahnya kepemilikan investor asing atas Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), instrumen operasi moneter yang juga dipakai BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat. Di sisi lain, pertumbuhan utang luar negeri sektor swasta justru mengalami kontraksi pada periode yang sama.