Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat US$453,4 miliar, tumbuh 4,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini ditopang oleh utang pemerintah dan bank sentral yang bertambah, sementara utang swasta masih menyusut meski penyusutannya melambat. Angka ini penting karena ULN menggambarkan seberapa besar Indonesia bergantung pada dana asing, yang ikut memengaruhi nilai tukar rupiah dan beban pembayaran negara ke depan.

Utang pemerintah tercatat US$216,3 miliar, tumbuh 2,9 persen secara tahunan, melambat dari 3,8 persen pada triwulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama berasal dari investor yang membeli lebih banyak Surat Berharga Negara (SBN), yaitu surat utang yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai anggaran belanja negara. Dana tersebut dialokasikan antara lain ke sektor kesehatan dan sosial (22 persen dari total utang pemerintah), administrasi pemerintahan dan pertahanan (20,6 persen), pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,5 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen). Sementara itu, kenaikan utang bank sentral didorong oleh investor asing yang makin banyak memegang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), instrumen yang dipakai BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Utang swasta tercatat US$194,6 miliar, masih terkontraksi 0,6 persen secara tahunan, tapi penyusutan ini mengecil dibanding 1,3 persen pada triwulan I 2026. Perlambatan kontraksi ini terutama berasal dari utang lembaga keuangan yang turun 3,4 persen, membaik dari penurunan 6,3 persen pada triwulan sebelumnya. Empat sektor, yakni industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, listrik dan gas, serta pertambangan, menyumbang 79,4 persen dari total utang swasta, dengan 75,7 persen di antaranya berjangka panjang.

Secara keseluruhan, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 30,6 persen pada triwulan II 2026, dan 82,1 persen dari total utang luar negeri berjangka panjang. Bank Indonesia dan pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan ULN untuk menjaga struktur utang tetap sehat.