PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) melaporkan penjualan sebesar Rp1,12 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik dari Rp1,03 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bersih perusahaan kosmetik dan perawatan tubuh ini justru turun 26,4 persen menjadi Rp87,7 miliar, dari Rp119,1 miliar setahun sebelumnya. Laba per saham ikut turun dari Rp17,76 menjadi Rp13,08. Penyebab utamanya adalah beban penjualan dan pemasaran yang naik dari Rp293,8 miliar menjadi Rp342,5 miliar, atau sekitar 17 persen, jauh lebih cepat dari pertumbuhan penjualannya.
Di sisi keuangan, total liabilitas VICI melonjak 39,4 persen atau Rp96,9 miliar, dari Rp245,8 miliar pada akhir Desember 2025 menjadi Rp342,7 miliar per 30 September 2026. Dalam surat resmi ke Bursa Efek Indonesia tertanggal 28 Oktober 2026, Direktur Utama Sumardi Widjaja menjelaskan bahwa kenaikan ini terutama berasal dari utang bank jangka pendek baru senilai Rp96,9 miliar, membuat saldo utang bank jangka pendek perusahaan melompat dari Rp3,08 miliar menjadi Rp100 miliar. Perusahaan menyatakan kenaikan utang ini tidak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan periode berjalan. Sebagai pembanding, total aset VICI naik menjadi Rp1,49 triliun dari Rp1,34 triliun, ekuitas naik menjadi Rp1,145 triliun dari Rp1,092 triliun, dan kas perusahaan melonjak menjadi Rp158 miliar dari Rp39,4 miliar, sebagian besar berasal dari pencairan pinjaman bank tersebut.
Selama sembilan bulan ini, VICI juga membagikan dividen kas sebesar Rp33,54 miliar, lebih kecil dari Rp46,96 miliar yang dibagikan pada periode yang sama tahun 2025. Laporan keuangan interim ini disampaikan tidak diaudit dan ditandatangani oleh Sumardi Widjaja selaku Direktur Utama serta Henny Soetanto selaku Direktur, yang menyatakan bertanggung jawab penuh atas kelengkapan dan kebenaran informasi di dalamnya.
