PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) menyampaikan materi Public Expose Insidental kepada Bursa Efek Indonesia melalui surat No. 030/VICI-CORSEC/IX/2026 tanggal 17 September 2026. Penyelenggaraan paparan publik ini bermula dari pengumuman BEI Nomor Peng-SPT-00175/BEI.WAS/09-2026 tanggal 11 September 2026, yang menghentikan sementara perdagangan saham VICI pada 14 September 2026 karena kenaikan harga kumulatif yang signifikan. Sehari setelah suspensi, BEI meminta VICI melalui surat elektronik untuk menggelar Public Expose Insidental, yang dijadwalkan berlangsung 18 September 2026 secara daring lewat Zoom dalam Bahasa Indonesia, dengan sesi tanya jawab dibatasi maksimal lima penanya.
Materi yang disampaikan memuat kinerja keuangan semester I 2026 dibanding periode sama tahun lalu. Pendapatan naik 10,14 persen menjadi Rp745,3 miliar dan laba kotor naik 4,64 persen menjadi Rp394,8 miliar. Namun laba bersih justru turun 44,15 persen, dari Rp80,7 miliar menjadi Rp45,1 miliar, dan EBITDA turun 38,08 persen dari Rp123,5 miliar menjadi Rp76,5 miliar. Total aset naik 3,27 persen menjadi Rp1,36 triliun, total liabilitas turun tipis 0,91 persen menjadi Rp255,6 miliar, dan total ekuitas naik 4,28 persen menjadi Rp1,10 triliun. Perseroan juga mencatat penjualan lewat kanal daring menyumbang 26,4 persen dari total penjualan hingga Juni 2026.
Dokumen itu turut memuat struktur kepemilikan saham VICI: PT Sukses Sejati Sejahtera menguasai 84,95 persen, disusul Henny Soetanto 0,15 persen, Luhur Dino Herlambang 0,10 persen, Andi Sulistiawan 0,08 persen, Sumardi Widjaja 0,07 persen, dan masyarakat 14,65 persen. PT Sukses Sejati Sejahtera sendiri dikuasai 99,95 persen oleh PT Gemilang Tunggal Prakarsa. Perseroan menyebut tengah menjajaki akuisisi sejumlah merek untuk memperluas pasar, meningkatkan margin, dan memperkuat likuiditas, tanpa menyebut nama calon target atau nilai transaksi, serta menegaskan tidak ada informasi material lain yang belum diungkapkan ke publik selain yang sudah disampaikan sebelumnya.
