PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menyampaikan materi Public Expose Tahunan ke Bursa Efek Indonesia, menjelang acara publik yang akan digelar Senin, 7 September 2026. Materi tersebut memuat kinerja keuangan semester I 2026 yang belum diaudit: pendapatan Rp1,57 triliun, naik 206 persen dibanding periode sama tahun lalu, didorong pendapatan telekomunikasi Rp1,28 triliun yang tumbuh 357 persen dan kini menyumbang 82 persen dari total pendapatan perseroan. Laba operasional sebelum bunga, pajak, dan penyusutan (EBITDA) tercatat Rp948,9 miliar, naik 117 persen, dengan margin 60,4 persen. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp496,8 miliar, naik 118 persen, sementara laba yang menjadi hak pemegang saham entitas induk hanya naik 45 persen.
Dari sisi pelanggan, jumlah pelanggan broadband tembus 2,3 juta, naik 518 persen dibanding tahun lalu. Rinciannya, pelanggan fiber optik Starlite (FTTH) mencapai 1,85 juta atau naik 377 persen, dan pelanggan internet rumah nirkabel IRA (5G FWA) sebanyak 513 ribu pada kuartal penuh pertamanya beroperasi, dengan tingkat pelanggan berhenti berlangganan di bawah 0,1 persen per bulan untuk lini FTTH. Jumlah lokasi pemancar FWA mencapai lebih dari 1.500 unit per 31 Agustus 2026, naik dari 1.104 unit lima minggu sebelumnya, tersebar di delapan provinsi termasuk Jawa, Maluku, dan Papua, dengan target 5.500 lokasi pada akhir 2026. Untuk jaringan fiber, jumlah rumah yang sudah terjangkau kabel (homes passed) mencapai 3 juta, menuju target 3,5 juta pada akhir tahun.
Dari sisi pendanaan, kas dan setara kas perseroan tercatat Rp8,29 triliun, dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 0,85 kali dan kemampuan membayar bunga (EBITDA dibanding beban bunga) sebesar 3,5 kali. Sepanjang semester I 2026, perseroan menerbitkan obligasi dan sukuk senilai sekitar Rp5 triliun, ditambah pinjaman sindikasi Rp1,7 triliun yang sudah dicairkan. Anak usaha WEAVE, yang 51 persen dimiliki WIFI dan 49 persen oleh NTT East asal Jepang, menerbitkan obligasi Samurai perdana senilai 21,4 miliar yen atau sekitar Rp2,4 triliun pada Juli 2026, dengan peringkat layak investasi BBB+ dari Japan Credit Rating Agency. Total aset per 30 Juni 2026 tercatat Rp20,9 triliun, dengan ekuitas Rp9 triliun dan utang berbunga Rp9,8 triliun, sementara realisasi belanja modal semester I 2026 lebih dari Rp1 triliun untuk pembangunan lokasi FWA, jaringan fiber, dan perangkat pelanggan.
Untuk keseluruhan 2026, perseroan menargetkan lebih dari 3 juta pelanggan gabungan FWA dan FTTH, 5.500 lokasi FWA, 3,5 juta rumah terjangkau fiber, serta margin EBITDA di kisaran 50 sampai 60 persen. Sesi Public Expose Live akan digelar secara daring pada Senin, 7 September 2026, dengan sesi tanya jawab bersama jajaran direksi perseroan.
