Lembaga pemeringkat PEFINDO menegaskan peringkat idB untuk PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) beserta seluruh surat utangnya, tetapi mengubah prospeknya dari Stabil menjadi Negatif. Perubahan ini menyusul ketidakmampuan WSBP membayar kupon ke-8 Obligasi Waskita Beton Precast I dan II Tahun 2022 yang jatuh tempo 25 September 2026. Menurut PEFINDO, penyebabnya adalah kas yang tersedia untuk membayar utang, disebut Cash Flow Available for Debt Service atau CFADS, tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban tersebut.
PEFINDO menyebut kekurangan pembayaran ini belum tergolong gagal bayar. Perjanjian homologasi, yakni kesepakatan perdamaian utang WSBP dengan para krediturnya yang berlaku efektif sejak September 2022, memberi masa perbaikan atau remedial period selama 90 hari sejak jatuh tempo untuk menyelesaikan kewajiban yang tertunda. PEFINDO memperkirakan WSBP akan membayar dalam masa itu, dengan syarat perusahaan mempercepat penagihan piutang. Sebaliknya, peringkat berpotensi turun lagi jika pembayaran tidak selesai sampai masa perbaikan berakhir, jika peluang pembayaran itu makin kecil, atau jika kreditur mengambil langkah mengakhiri perjanjian homologasi. Tidak membayar setelah 90 hari akan dikategorikan sebagai gagal bayar.
Empat instrumen utang WSBP ikut dipertahankan pada peringkat idB dengan prospek Negatif untuk periode 29 September 2026 sampai 1 September 2027: Obligasi Waskita Beton Precast I Tahun 2022 senilai pokok sekitar Rp80,76 miliar jatuh tempo 25 September 2028, Obligasi Waskita Beton Precast II Tahun 2022 senilai sekitar Rp245,85 miliar dengan tanggal jatuh tempo sama, Obligasi Wajib Konversi I Tahun 2023 senilai sekitar Rp457,61 miliar jatuh tempo 12 Desember 2033, dan Obligasi Wajib Konversi II Tahun 2023 senilai sekitar Rp1,39 triliun dengan tanggal jatuh tempo yang sama.
PEFINDO juga memaparkan kondisi keuangan WSBP yang terus memburuk. Ekuitas WSBP, yakni selisih aset dikurangi utang, sudah minus Rp2,26 triliun per Juni 2026, makin dalam dibanding minus Rp2,02 triliun pada akhir 2025 dan minus Rp696,5 miliar pada akhir 2023. Total aset perusahaan menyusut dari Rp4,44 triliun pada 2023 menjadi Rp2,9 triliun pada Juni 2026, sementara total utang justru naik dari Rp2,48 triliun menjadi Rp2,78 triliun pada periode yang sama. Rugi bersih tercatat Rp285,6 miliar pada semester pertama 2026, setelah rugi Rp537,4 miliar sepanjang 2025. Per 30 Juni 2026, pemegang saham WSBP adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT) 28,12 persen, PT Intiniaga Sukses Abadi 6,88 persen, saham treasuri 3,24 persen, dan publik 61,76 persen.
