PT Waskita Karya (Persero) Tbk menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit untuk sembilan bulan pertama 2026, sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan. Total aset perusahaan naik dari Rp70,73 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp73,07 triliun per 30 September 2026. Namun total ekuitas, yakni selisih antara aset dan utang yang menjadi hak pemegang saham, justru merosot tajam dari Rp3,67 triliun menjadi Rp1,04 triliun, turun 71,7 persen hanya dalam sembilan bulan. Bagian ekuitas yang menjadi hak pemegang saham induk perusahaan malah mencatat defisit yang melebar, dari negatif Rp1,03 triliun menjadi negatif Rp3,34 triliun.
Pendapatan usaha Waskita naik 53,7 persen, dari Rp5,29 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp8,13 triliun. Namun laba kotornya hanya Rp959,4 miliar, hampir seluruhnya tergerus beban keuangan atau bunga utang sebesar Rp2,79 triliun. Akibatnya, perusahaan masih mencatat rugi bersih Rp3,26 triliun untuk sembilan bulan 2026, memang sedikit lebih kecil dibanding rugi Rp3,58 triliun pada periode yang sama tahun lalu, dengan rugi per saham Rp99,70 dibanding Rp110,21 sebelumnya. Kas dan setara kas perusahaan turun drastis dari Rp4,41 triliun menjadi Rp1,50 triliun, susut 65,9 persen dalam sembilan bulan.
Dari sisi utang, liabilitas jangka pendek turun dari Rp33,10 triliun menjadi Rp25,66 triliun, sementara liabilitas jangka panjang melonjak dari Rp33,96 triliun menjadi Rp46,37 triliun. Pergeseran ini menunjukkan sebagian utang yang semula jatuh tempo dalam waktu dekat telah digeser ke tenor yang lebih panjang. Nilai investasi Waskita pada entitas ventura bersama dan asosiasi juga turun tajam dari Rp6,76 triliun menjadi Rp2,23 triliun, sejalan dengan hilangnya status pengendali anak usaha Waskita atas WWE yang sebelumnya sudah diberitakan.
