PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) menyampaikan laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 melalui surat No. 71/YLO-OJK/X/2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan, dengan tanggal surat pernyataan direksi 30 Oktober 2026. Laporan ini bersifat tidak diaudit dan mencakup konsolidasi dengan dua anak usaha, yaitu PT Abdi Harapan Unggul yang bergerak di penjualan voucher isi ulang pulsa, pulsa elektronik, dan paket data internet dengan kepemilikan YELO sebesar 97,99 persen, serta PT Komunikasi Profesional Indonesia yang bergerak di perdagangan, perindustrian, pembangunan, dan percetakan dengan kepemilikan 99,52 persen.
Dari sisi kinerja usaha, pendapatan neto YELO turun dari Rp53,87 miliar pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi Rp31,70 miliar pada periode yang sama tahun ini, penurunan sekitar 41 persen. Laba bruto ikut tergerus dari Rp3,31 miliar menjadi Rp2,25 miliar. Meski beban usaha berhasil ditekan dari Rp5,65 miliar menjadi Rp3,03 miliar, perusahaan tetap mencatatkan rugi sebelum pajak sebesar Rp803,20 juta, lebih dalam dibanding rugi Rp316,01 juta pada periode sebelumnya. Setelah memperhitungkan pajak, rugi bersih periode berjalan tercatat Rp643,16 juta, naik tajam dari Rp209,58 juta pada sembilan bulan pertama 2025, dengan rugi per saham melebar dari Rp0,13 menjadi Rp0,34.
Posisi keuangan per 30 September 2026 menunjukkan total aset Rp275,02 miliar, relatif stabil dibanding Rp275,99 miliar pada akhir 2025. Total liabilitas turun dari Rp7,72 miliar menjadi Rp7,39 miliar, sementara ekuitas turun tipis dari Rp268,27 miliar menjadi Rp267,63 miliar akibat akumulasi rugi yang belum ditentukan penggunaannya membesar dari negatif Rp10,72 miliar menjadi negatif Rp11,37 miliar. Modal saham tetap di Rp191,28 miliar dengan jumlah saham beredar 1.912.774.405 lembar bernilai nominal Rp100 per saham, tidak ada perubahan jumlah saham pada periode ini. Dari laporan arus kas, kas neto dari aktivitas operasi berbalik positif menjadi Rp3,84 miliar, dari sebelumnya negatif Rp403,67 juta, sementara aktivitas investasi menyerap kas Rp2,58 miliar terutama untuk pembelian aset tetap, sehingga kas dan setara kas akhir periode naik menjadi Rp1,95 miliar dari Rp693,91 juta di awal periode.
