PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan bersih perusahaan naik dari Rp22,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp23,71 triliun. Laba usaha naik dari Rp1,56 triliun menjadi Rp2,84 triliun, sementara biaya pendanaan turun drastis dari Rp139,58 miliar menjadi hanya Rp2,67 miliar karena perusahaan tidak lagi membayar cicilan pinjaman bank seperti tahun sebelumnya. Hasil akhirnya, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemegang saham naik 77,6 persen dari Rp1,11 triliun menjadi Rp1,98 triliun, dan laba per saham naik dari Rp555,99 menjadi Rp989,77.

Dari sisi posisi keuangan, kas dan setara kas perusahaan lebih dari dua kali lipat, dari Rp2,76 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi Rp5,79 triliun pada akhir September 2026. Total aset naik dari Rp27,05 triliun menjadi Rp30,18 triliun. Namun total liabilitas juga melonjak 79 persen, dari Rp2,89 triliun menjadi Rp5,18 triliun. Dalam surat penjelasan yang ditandatangani Direktur Tingning Sukowignjo, manajemen menyebut kenaikan ini terutama berasal dari utang lain-lain yang naik dari Rp221,13 miliar menjadi Rp693,60 miliar, serta beban akrual yang melonjak dari Rp106,91 miliar menjadi Rp1,67 triliun untuk biaya operasional seperti pupuk dan asuransi. Total ekuitas sendiri hanya naik tipis dari Rp24,16 triliun menjadi Rp24,99 triliun, setelah perusahaan membagikan dividen tunai Rp1,09 triliun kepada pemegang saham induk selama sembilan bulan ini, naik dari Rp590,88 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Laporan arus kas menunjukkan kas bersih dari aktivitas operasi turun dari Rp5,76 triliun menjadi Rp4,18 triliun. Di sisi pendanaan, kas yang digunakan turun tajam dari Rp3,64 triliun menjadi Rp681,23 miliar, karena tahun lalu perusahaan melunasi pinjaman bank sebesar Rp3,1 triliun sementara tahun ini tidak ada pembayaran pinjaman bank sama sekali.