ADHI Minta Pemegang Obligasi Setujui Penundaan Bunga
ADHI menggelar RUPO senilai Rp102,715 miliar untuk meminta persetujuan menunda pembayaran bunga ke-8, ke-9, dan ke-10.
11 Agustus 2026Sumber: Keterbukaan Informasi IDX
Ilustrasi AI
Arahnya ke mana Cenderung negatif
RUPO adalah forum resmi bagi perusahaan penerbit surat utang untuk meminta persetujuan pemegang obligasi ketika hendak mengubah syarat pembayaran utang, dan dalam kasus ini ADHI meminta izin menunda jadwal pembayaran bunga untuk tiga periode sekaligus, yakni bunga ke-8, ke-9, dan ke-10 dari obligasi senilai Rp102,715 miliar. Yang tersentuh dari sisi kinerja perusahaan adalah arus kas dan beban bunga, karena kemampuan membayar bunga tepat waktu mencerminkan seberapa longgar kas perusahaan menutup kewajiban rutinnya. Pelaku pasar mencermati hal semacam ini karena berkaitan langsung dengan risiko gagal bayar utang, yang bisa memengaruhi kepercayaan kreditur dan biaya pinjaman perusahaan ke depan. Secara fundamental, permintaan penundaan pembayaran bunga atas tiga periode sekaligus ini condong negatif bagi ADHI, karena permintaan kelonggaran waktu semacam itu lazimnya muncul ketika arus kas perusahaan belum cukup untuk memenuhi jadwal pembayaran bunga yang sudah disepakati sebelumnya.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) atas Obligasi Berkelanjutan IV Adhi Karya Tahap I Tahun 2024 pada 6 Agustus 2026. Rapat ini merujuk pada Perjanjian Perwaliamanatan Akta No. 10 tanggal 3 April 2024 yang dibuat di hadapan notaris Ashoya Ratam, yaitu kontrak yang mengatur hak dan kewajiban perusahaan sebagai penerbit obligasi terhadap para pemegangnya.
Agenda utama RUPO adalah meminta persetujuan pemegang obligasi untuk mengubah dan/atau menunda jadwal pembayaran bunga ke-8, ke-9, dan ke-10 dari obligasi tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat 4 perjanjian. Artinya, perusahaan mengajukan permintaan kelonggaran waktu pembayaran bunga untuk tiga periode pembayaran ke depan sekaligus, bukan hanya satu kali jatuh tempo.
Rapat ini dihadiri pemegang obligasi yang mewakili nilai pokok Rp100 miliar, setara 100 miliar suara atau 97,36 persen dari total obligasi seri ini yang masih beredar sebesar Rp102,715 miliar, sehingga syarat kuorum rapat terpenuhi. Hasil resmi RUPO tertuang dalam covernote Notaris Dewantari Handayani nomor 167/NOT/SK/AK-RUPO/VIII/2026 tanggal 6 Agustus 2026, yang diterima perusahaan pada 10 Agustus 2026.
Penilaian arah di atas menyangkut fundamental emiten, bukan anjuran membeli atau menjual saham.
ADHIAdhi KaryaobligasiRUPO
Foto ilustrasi dibuat dengan AI. Bukan dokumentasi peristiwa yang diberitakan.
Berita ini disusun redaksi The Signal dari keterbukaan informasi resmi yang disampaikan emiten ke Bursa Efek Indonesia. Catatan redaksi bersifat penjelasan, bukan rekomendasi investasi.
Mau tahu arahnya, bukan cuma beritanya?Tiap malam hari kerja, satu tulisan yang menjawab ke mana ekonomi bergerak hari itu dan apa yang akan menentukan arahnya. Plus angka pembanding yang tidak ada di situs. Gratis.
Signal+
Ke mana ekonomi bergerak hari ini, dan apa artinya buat keputusanmu besok.
Dikirim tiap malam hari kerja setelah seluruh berita hari itu dibaca.
Formulir pendaftarannya membutuhkan
JavaScript; kalau tidak muncul, daftar langsung lewat halaman Buttondown
kami.