PT Adhi Karya (Persero) Tbk melaporkan hasil public expose tahunan yang digelar Rabu, 9 September 2026, secara virtual lewat Zoom webinar dalam rangkaian Public Expose Live 2026 milik Bursa Efek Indonesia. Acara berlangsung pukul 16.00 hingga 17.00 WIB dan dihadiri jajaran direksi, yaitu Direktur Utama Moeharmein Zein Chaniago, Direktur Keuangan Bani Iqbal, Direktur Human Capital dan Legal Ki Syahgolang Permata, Direktur Operasi I Harimawan, serta Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko Rozi Sparta. Selain manajemen, tercatat 106 peserta umum dan investor, ditambah 85 perwakilan media pada sesi konferensi pers.
Dalam sesi tanya jawab, investor bernama Daniel menanyakan opsi rights issue, penjualan aset, atau dukungan Danantara jika negosiasi restrukturisasi utang tidak berjalan lancar, mengingat rasio utang terhadap ekuitas (DER) disebut sudah mendekati batas yang diperbolehkan dalam perjanjian pinjaman. Manajemen menjawab bahwa Master Restructuring Agreement ditargetkan ditandatangani pada September 2026 ini, dengan dukungan pemegang saham mayoritas PT Danantara Asset Management. Perseroan juga akan menata ulang portofolio bisnis, kembali fokus ke bisnis inti sebagai kontraktor, lewat rencana divestasi tiga entitas anak usaha paling lambat 2027, sementara entitas lain dilepas bertahap. Soal keluhan konsumen LRT City yang belum menerima unit sejak 2019, termasuk proyek di Cibubur, manajemen menyebut masih berkoordinasi dengan Danantara untuk uji tuntas atas proyek-proyek tersebut guna memetakan masalah dan mencari solusi.
Investor yang sama juga mempertanyakan kenaikan laba bersih 12,6 persen di tengah ekuitas yang menurutnya turun sekitar 65,39 persen dan arus kas operasi yang makin negatif. Manajemen menjelaskan kenaikan laba bersih kuartal II 2026 itu ditopang pendapatan lain-lain dari pengakuan bunga tertunda atas piutang proyek LRT Jabodebek sesuai klausul kontrak, bukan dari kinerja operasional inti. Penurunan ekuitas dikatakan berasal dari kerugian Rp5,5 triliun yang dibukukan di laporan keuangan audit tahun 2025, terutama akibat penurunan nilai aset (impairment). Perseroan mengklaim tetap memprioritaskan penyelesaian kewajiban, yang tercermin dari penurunan signifikan utang usaha, di tengah pencairan kas proyek yang masih negatif.
Menjawab pertanyaan investor lain soal risiko tekanan likuiditas terhadap penyelesaian proyek dan pembayaran ke mitra kerja, manajemen secara terbuka mengakui bahwa tekanan keuangan yang dihadapi berdampak pada kinerja konsolidasi, posisi likuiditas, dan solvabilitas induk usaha, sehingga menyulitkan pembayaran tepat waktu kepada kontraktor dan vendor. Sebagai mitigasi, Perseroan menyebut terus berkoordinasi dengan para kreditur untuk memperoleh persetujuan restrukturisasi, serta menjajaki dukungan dari Danantara dan BP BUMN dalam kerangka penyehatan BUMN Karya yang lebih luas.
