PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) menyampaikan laporan keuangan tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan pada 29 Oktober 2026, sesuai ketentuan laporan keuangan berkala emiten. Laba periode berjalan tercatat Rp21,01 miliar, turun dari Rp41,98 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih per saham ikut turun dari Rp1,70 menjadi Rp0,85 per lembar.
Pendapatan bunga neto bank sebenarnya naik dari Rp512,2 miliar menjadi Rp567,3 miliar, dan pendapatan operasional lain melonjak ke Rp306,9 miliar dari Rp110,8 miliar, terutama ditopang penerimaan kembali kredit macet yang sudah dihapus dari pembukuan senilai Rp276,6 miliar, naik dari Rp67,3 miliar setahun sebelumnya. Namun biaya pencadangan kerugian kredit melonjak ke Rp295,7 miliar dari Rp130,2 miliar, sementara beban operasional lain naik ke Rp561,3 miliar dari Rp455,5 miliar, didorong kenaikan beban gaji dan tunjangan menjadi Rp260,9 miliar dari Rp220,3 miliar serta beban umum dan administrasi menjadi Rp298,3 miliar dari Rp219,7 miliar. Akibatnya laba operasional anjlok ke Rp17,2 miliar dari Rp37,4 miliar.
Dari sisi neraca, total aset turun menjadi Rp12,57 triliun dari Rp13,09 triliun pada akhir 2025. Kredit yang diberikan turun menjadi Rp6,47 triliun dari Rp7,72 triliun, sementara cadangan kerugian penurunan nilai kreditnya turun tajam menjadi Rp634,8 miliar dari Rp1,44 triliun, sejalan dengan penghapusan kredit bermasalah dari pembukuan. Simpanan nasabah turun menjadi Rp8,23 triliun dari Rp9,54 triliun, dengan deposito berjangka turun paling dalam menjadi Rp5,28 triliun dari Rp6,34 triliun. Untuk menambal kebutuhan dana, bank menambah pembiayaan melalui efek yang dijual dengan janji dibeli kembali senilai Rp859,9 miliar, pos yang sebelumnya nol pada akhir 2025.
Total ekuitas turun menjadi Rp2,94 triliun dari Rp3,01 triliun, terutama akibat rugi belum direalisasi atas surat berharga yang dipegang bank senilai Rp97,8 miliar setelah pajak. Arus kas dari aktivitas operasi mencatat defisit Rp1,16 triliun, berbalik dari surplus Rp339,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu, terutama karena penarikan deposito berjangka dalam jumlah besar.
