PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) menyampaikan laporan keuangan tahunan auditan untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026 kepada Bursa Efek Indonesia, dengan opini wajar tanpa pengecualian dari auditor. Sepanjang tahun fiskal tersebut, pendapatan bersih perusahaan naik 17,3 persen menjadi Rp205 miliar, sementara laba bersih tumbuh 17,9 persen menjadi Rp85 miliar dan laba per saham naik dari Rp33 menjadi Rp38.
Pada kuartal terakhir tahun fiskal, yakni April sampai Juni 2026, dana kelolaan (AuM) perusahaan justru turun 8,0 persen dari kuartal sebelumnya menjadi Rp32,4 triliun. Penurunan sebesar Rp2,8 triliun ini berasal dari arus keluar dana investor bersih sebesar Rp0,1 triliun dan penurunan nilai investasi sebesar Rp2,7 triliun, seiring Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkontraksi 20 persen dalam kuartal itu dan suku bunga acuan Bank Indonesia yang naik dari 4,75 persen ke 5,75 persen. Meski dana kelolaan turun, pendapatan bersih kuartal ini tetap naik 1,6 persen menjadi Rp59,2 miliar dan laba bersih naik 18,0 persen menjadi Rp27,7 miliar, karena beban operasional pada kuartal tersebut justru turun 3,6 persen.
Untuk keseluruhan tahun fiskal, dana kelolaan tumbuh 35,3 persen atau bertambah Rp8,5 triliun menjadi didorong oleh arus masuk dana investor bersih sebesar Rp11,6 triliun, yang sebagian tergerus oleh penurunan nilai investasi Rp3,1 triliun akibat IHSG yang turun 18,5 persen dan rupiah yang melemah 9,2 persen sepanjang tahun berjalan. EBITDA tumbuh 15,1 persen menjadi Rp94 miliar dengan margin 46 persen. Perusahaan mencatat kas Rp130 miliar dan investasi modal awal senilai Rp131 miliar per akhir Juni 2026. Manajemen mengusulkan dividen final Rp23 per saham, sehingga total dividen tahun ini menjadi Rp36 per saham atau setara 93 persen dari laba bersih, jauh di atas kebijakan minimal pembagian 50 persen laba bersih setiap tahun. Usulan ini masih menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham.
Presiden Direktur Ashmore, Ronaldus Gandahusada, mengatakan perusahaan tetap fokus menjalankan strategi di tengah volatilitas tinggi akibat faktor geopolitik dan kekhawatiran makroekonomi domestik. Ia menyebut strategi ekuitas perusahaan mengungguli tolok ukur pasar rata-rata 11,4 persen dan strategi pendapatan tetap unggul 1,2 persen sepanjang dua belas bulan terakhir.
