PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) akan menerbitkan 218.090.317 saham baru seri B dengan nilai nominal dan harga pelaksanaan sama-sama Rp325 per saham. Jumlah ini setara 5,79 persen dari total saham perusahaan setelah penerbitan, sehingga pemegang saham lama akan terdilusi sebesar persentase yang sama. Penerbitan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau PMTHMETD ini dilakukan untuk melunasi utang sebesar US$4.108.948, atau sekitar Rp70,88 miliar dengan kurs Rp17.250 per dolar AS, kepada dua kreditur sindikasi luar negeri, yaitu HSBC Bank PLC dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited. Perseroan akan meminta persetujuan rencana ini dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 7 Oktober 2026, dan penerbitan saham wajib dilakukan selambat-lambatnya 31 Oktober 2026.

Utang ini berasal dari fasilitas pinjaman berjangka senilai US$35 juta yang diteken Apexindo pada 2022, bagian dari penataan kembali kewajiban perusahaan setelah perjanjian perdamaian yang dihomologasi pengadilan pada 2019. Sisa pokok pinjaman semestinya lunas pada 18 Mei 2026, tetapi tenggatnya diperpanjang tiga kali, yakni ke 8 Juni, 8 Juli, dan terakhir 31 Juli 2026, karena arus kas perusahaan saat jatuh tempo belum sepenuhnya mencukupi untuk membayar seluruh kewajiban. Kesepakatan akhirnya dituangkan dalam Conditional Share Issuance Agreement pada 11 Agustus 2026 dan 2026 Amendment and Restatement Deed, yang isinya kreditur menerima saham baru sebagai pelunasan penuh, bukan lagi pembayaran tunai.

Dengan konversi ini, porsi kepemilikan PT Aserra Capital selaku pengendali turun dari 53,51 persen menjadi 50,41 persen, sementara porsi pemegang saham publik turun dari 39,46 persen menjadi 37,17 persen. Perseroan menyatakan tidak ada perubahan pengendali akibat transaksi ini karena PT Aserra Capital tetap memegang lebih dari separuh saham. HSBC Bank PLC dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited akan memegang saham baru masing-masing 1,66 persen dan 4,14 persen dari total saham perseroan setelah transaksi. Perusahaan menyebut dana dari utang yang dikonversi ini sebelumnya dipakai untuk membiayai kembali pinjaman investasi dan modal kerja.