PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menggelar Public Expose Insidentil 2026 secara daring melalui Zoom pada 2 November 2026, dihadiri 17 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan, terdiri dari pemegang saham publik, media, dan analis sekuritas. Acara dibuka dan ditutup oleh Direktur Utama Aldo Artoko bersama Direktur Ricky Hartono dan Direktur Terry Tando, dengan Head of Investor Relations Nicko Yosafat sebagai pembawa acara. Materi yang dipaparkan meliputi kondisi dan rencana bisnis, kinerja keuangan, serta analisis manajemen terkait pergerakan harga saham perseroan.
Menjawab pertanyaan soal dampak El Nino, manajemen mengakui fenomena ini menurunkan curah hujan dan debit air sehingga produksi listrik di sejumlah lokasi pembangkit sempat tertekan. Namun secara keseluruhan produksi listrik ARKO pada Januari-September 2026 masih tumbuh 13,56 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, didukung kontribusi Proyek Kukusan yang beroperasi sejak Februari 2026. Sebagai mitigasi, perseroan memanfaatkan musim kering untuk pemeliharaan pembangkit, mengakselerasi pembangunan Proyek Tomoni dan Pongbembe, serta mendiversifikasi sumber energi lewat akuisisi dan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Untuk katalis 2027, manajemen menyebut Proyek Tomoni ditargetkan beroperasi pada kuartal I 2027 dengan tambahan produksi sekitar 56 GWh, atau sekitar 24 persen dari proyeksi total produksi listrik tahun itu. Dengan kontribusi tersebut, total produksi listrik diproyeksikan naik 49,5 persen dari estimasi 155,1 GWh pada 2026 menjadi 231,8 GWh pada 2027, meski pencapaiannya tetap bergantung pada jadwal operasional Tomoni dan kondisi hidrologi. Proyek Pongbembe, yang ditargetkan selesai pada 2030, juga diharapkan menyumbang pendapatan konstruksi yang meningkat seiring progres pembangunannya.
Soal ekspansi energi surya, ARKO saat ini mengoperasikan dua PLTS di Kepulauan Riau dengan total kapasitas 21,3 MWp, dan merencanakan tiga PLTS tambahan berkapasitas 34 MWp yang dilengkapi sistem penyimpanan baterai (BESS) 28,3 MWh, sehingga total kapasitas PLTS yang telah dikontrak mencapai 55,3 MWp. Perseroan juga memiliki pipeline pengembangan energi terbarukan lebih dari 300 MW, namun akan dikembangkan secara selektif dan bertahap dengan mempertimbangkan kelayakan teknis, finansial, perizinan, pendanaan, serta jadwal tender PLN.
